Κυριακή, 24 Αυγούστου 2014

Lelampahan Bopo Sri Gutomo ( kaca 35 )


 Flag Counter

Wacana
Sasampunipun panjenengan  maos lelampahan Bopo Sri Gutomo kaca 34 ing bab penelitian sujud ingkang sampun kalampahaken dening Ibu Sri Pawenang, monggo sapuniko sami anjinggleng punopo kemawon ingkang mbokmenawi saget ambikak warana ingkang angalingi lan mboten dipun mangertosi dening sok tiyango. Ing ngandap puniko kulo cuplikaken sakedik kaca 34

Sesudah merasakan getaran2 yang turun dari ubun2 sampai keujung jari2 kaki, dapat dirasakan keluar masuknya hawa melalui pori2 kulit, lama2 dapat terasa se-olah2 napas tidak hanya melalui hidung, tapi juga melalui seluruh permukaan badan. Terasa bahwa badan memang sebetulnya bukan barang yang betul2 padat melainkan seperti saringan. Dalam keadaan ening demikian Sinar-sinar Cahya Allah diluar tubuh lebih banyak "diisap" dan bersama-sama getaran hidup yang ada dalam tubuh "membunuh" bibit2 penyakit yang akan keluar bersama keluarnya keringat.
Dapat dirasakan pula denyutan jantung, mengalirnya darah dalam pembuluh, getaran simpul2 sarap, merayapnya getaran hidup melalui sel2 dalam tubuh, dan lain2 yang bisa dirasakan . Bagian-bagian yang dirasakan akan menjadi lebih kuat dan tahan lama. Itulah cara menjaga kesehatan dengan ulah rasa.


Menawi panjenengan mirsani ringgit wacucal, tamtu pirsa yen pandamelanipun kanti katatah. Dipun tatah njlimet. Pramilo yen kapirsanan saking waliking kelir, katingal sadaya ukiran rumit ing wadagipun ringgit wacucal puniko. Ringgit wacucal sampun wonten saderengipun Kraton Kediri lan Kahuripan.  Panelitian ingkang katindakaken Ibu Sri Pawenang sampun mbikak warana yen ukiran ringgit puniko andedahaken bilih raganing manungso puniko sajatosipun kados saringan. Puniko ugi anyatakkaken bilih jaman kino tiyang Jawi sampun mangertosi jatining wadagipun. Lan puniko dipun giyaraken sarono ndamel ringgit ingkang kaukir kanti rumit. Ing manca nagari ugi wonten ringgit, nanging namung nggambaraken wadag wetah (utuh) kemawon. Mboten kanti ukiran njlimet. Ingkang dados pitakenan inggih puniko, punopo namung wonten tanah Jawi kemawon para pujangga ingkang mangertosi bab  puniko ?
Nuwun.

email: warga.saptadarma@gmail.com

Κυριακή, 3 Ιουλίου 2011

Lelampahan Bopo Sri Gutomo ( kaca 34 )

free counters

PENYEMBUHAN NON MEDIK,
DASAR PENGERTIANNYA,
MENURUT PENGHAYATAN AJARAN KEROHANIAN SAPTA DARMA


diajukan sebagai naskah
dalam seminar "peranan non medik didalam pengobatan"
penyelenggaraan ikatan dokter indonesia (i.d.i)


sri pawenang
tuntunan agung jurubicara kerohanian sapta darma


hal 1
PENYEMBUHAN NON MEDIK
DASAR PENGERTIANNYA,
MENURUT PENGHAYATAN AJARAN KEROHANIAN SAPTA DARMA.

Pengantar
Garis besar isi naskah ini sudah termuat dalam abstrak yang kami sampaikan kepada Panitia Penyelenggara Seminar beberapa hari lalu. Oleh karenanya tak perlu hal itu disinggung lagi.
Untuk memberikan penjelasan secara lengkap dan terperinci akan hal yang kami kemukakan adalah sulit, karena waktu yang diberikan yang memang harus terbatas tak memungkinkan untuk itu. Maka kami hanya akan mengemukakan hal2 yang esensial saja. Meskipun demikian diharapkan sudah dapat memberikan kejelasan yang diinginkan.
Hal-hal yang kami kemukakan sehubungan dengan "Penyembuhan Non Medik" banyak yang lebih bersifat abstrak daripada konkrit. Dan untuk yang demikian sering sukar untuk dijelaskan dengan logika ilmiah. Karenanya kami mencoba untuk memberikan keterangan dengan cara bukan menurut disiplin ilmiah secara murni, tetapi mempergunakan "dasar ilmiah dari suatu pengertian", dalam tujuan memudahkan uraian penjelasan.
Keawaman dibidang Ilmu Pengetahuan lain (khususnya Ilmu Kedokteran dan Ilmu Alam) membuat penjelasan2 kadang2 terasa janggal, tidak sesuai dengan "disiplin" ilmu yang tersangkut. Namun hal yang demikian diharapkan tidak merupakan sebab dari timbulnya kekaburan pengertian dari "pengertian" yang dimaksud.
hal 2
A. Hubungan antara Makhluk didunia dengan Penciptanya.
Ajaran berdasarkan Ke Tuhanan memberikan pengertian bahwa semua yang ada milik Tuhan. Semua makhluk tercipta karena kehendak Tuhan.
"Unsur" Ke Tuhanan merupakan "dzat"utama bagi keberadaan suatu makhluk. Tanpa ini suatu keberadaan (maya ataupun nyata)tidak akan pernah ada.
Unsur itu adalah Sinar Cahya Allah.
Sinar Cahya Allah berperan sejak awal, akhir dan selama keberadaan sesuatu makhluk. Keberadaan suatu makhluk selamanya tidak akan lepas dari "jangkauan" Sinar Cahya Allah.
Sinar Cahya Allah meresap kedalam suatu keberadaan (abstrak ataupun konkrit) dan berubah menjadi pembentuk perwujudan. Pembentuk perwujudan itu "hidup" dan bergerak karena didukung oleh adanya Sinar Cahya Allah.
Kemudian saling berkumpul, berkembang dan entah apa namanya untuk membentuk suatu perwujudan. Dalam kejadian itu Sinar Cahya Allah tetap merupakan unsur utama.
Keadaan dan kemampuan lingkungan yang tercipta sebelumnya ikut berperan dalam proses perubahan dan perkembangan Sinar Cahya Allah menjadi pembentuk perwujudan dan proses selanjutnya. Sehingga dapat dilihat adanya makhluk Tuhan yang bermacam wujud, bentuk, kelakuan, watak dan sifat.
Peran dan wujud Sinar Cahya Allah sesudah terwujudnya makhluk, bermacam-macam. Sebagai atom2, sel2 dan bentuk2 lainnya yang nyata, ataupun wujud2 yang abstrak berupa rokhani, nafsu2, cipta, dan sebagainya.
hal 3
B. Manusia, makhluk Tuhan yang tertinggi martabatnya.
Manusia mempunyai martabat paling tinggi diantara makhluk Tuhan yang lain karena Tuhan telah memberikan "peralatan" yang lebih lengkap dan sempurna dibandingkan yang diberikan kepada makhluk lain.
Manusia dapat menjalankan kehidupannya berdasar program yang disusun oleh cipta, rasa dan karsa yang tidak mungkin dilakukan oleh makhluk lainnya. Perkembangan peradapan manusia yang menghasilkan seperti apa yang dapat dilihat menunjukkan "cerminan sifat2 Tuhan" yang diberikan kepada manusia melalui Rokhani manusia. Akan hal rokhani manusia, adanya cipta,rasa dan karsa Rokhaniah membuat manusia dengan mudah dapat mendekatkan diri kepada Tuhan untuk memohon. Dengan "memelihara" Rokhaninya, manusiapun dapat menggunakan "kekuatan-kekuatan" yang ada didalam pribadinya seoptimal mungkin untuk kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupannya. Dengan rohani pula manusia dapat mengendalikan nafsu2 yang ada dalam pribadinya untuk diarahkan pada tujuan2 baik.
Alat-alat dan kemampuan2 itulah yang membuat manusia mempunyai martabat yang lebih tinggi daripada makhluk Tuhan yang lain.

hal 4
C. Penyembuhan dijalan Tuhan.
menurut Ajaran Kerohanuian Sapta Darma.


C1. Sakit, pengertiannya menurut Ajaran Kerokhanian Sapta Darma
Tubuh manusia terdiri dari atom2. Atom-atom merupakan sesuatu yang hidup, bergetar, bergerak, saling tarik membentuk sel2, jaringan sel2 dalam komponen2 tubuh yang disebut otak, hati, tulang, kulit dan organ tubuh lainnya. Komponen-komponen membentuk suatu jaringan dalam sistim yang sempurna.
Pada tubuh manusia hidup yang normal, komponen2 dalam sistim merupakan komponen2 yang aktip dan kompak. Bergetar, berdenyut, bergerak, mengirim tanda, menyalurkan dan melaksanakan perintah, dll. dalam suatu tata kerja yang aktip, harmonis, bersama-sama mewujudkan sesuatu yang hidup.
Atom, sel dan komponen dapat menjalankan tugas karena pada itu terdapat "tenaga penggerak" bagiseluruh kegiatan.
Tenaga itu adalah "getaran2 hidup" yang terdiri dari : "getaran2" Sinar Cahya Allah dalam pribadi manusia; Cipta, rasa dan karsa Rokhaniah dan getaran2 sari2 bumi.
Jika diibaratkan, getaran2 hidup itu terhadap tubuh manusia : Sinar Cahya Allah sebagai "udara yang mengandung zat asam" bagi atom supaya tetap hidup;Cipta-rasa-karsa Rokhaniah merupalkan sumber tenaga bagi atom, sel, komponen agar tetap dapat bergerak; sedangkan sari2 bumi sebagai bahan bakar, minyak pelumas dan suku cadang.
Atom-atom dalam tubuh dapat mengambil daya dengan optimal jika atom2 dapat bekerja secara normal. Tersebut dapat terlaksana jika keseimbangan dan keselarasan tata kerja dalam sistim terpenuhi. Jika tidak, atom2 akan tak dapat sepenuhnya memanfaatka getaran2 hidup. Akibat lebih jauh adalah sel2, komponen2 yang dibentuknya kurang atau tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Dalam tubuh yang "seimbang" getaran2 hidup mendukung tugas atom, sel dan komponen dengan cara yang seimbang. Artinya sesuai dengan sistim dan kebutuhan tiap atom, sel, komponen. Gangguan bagi pelaksanaan tugas getaran2 hidup membuat "pelayanan" yang diberikan menjadi kurang/tak sempurna. Ini berarti kebituhan tiap atom, sel, komponen tidak terterpenuhi sebagaimana mestinya, dan timbulah kelainan2 pada atom, sel dan komponen.
Kedua hal tersebut diatas, pelaksanaan tugas atom yang tidak normal dan ketidak sempurnaan getaran2 hidup melakukan tugasnya, merupakan sebab dari timbulnya kelainan2 dalam tubuh. Kelainan-kelainan ini yang dinamakan sakit.

hal 5
8.C.2. "Alat-alat dalam tubuh yang bisa dimanfaatkan
dalam usaha penyembuhan
.

Manusia hidup merupakan gabungan unsur jasmaniah dan unsur Rokhaniah.
Wadag manusia dengan segala organ2 anatomis, yang dapat diraba, dilihat,(dengan mata biasa atau mikroskop) merupakan unsur jasmaniah nyata.
"Alat2" jasmaniah yang adanya hanya dapat ditandai dengan rasa dan mata abstrak (mata batin, mata rokhani) merupakan unsur jasmaniah abstrak.

C.2.1. Unsur jasmaniah nyata.
Dalam tubuh manusia terdapat jaringan sarap dengan otak kecil sebagai pusatnya. Pada tempat2 tertentu dalam jaringan rasa terdapat talirasa2 (simpul sarap ?) yang ditandai dengan dua puluh macam nama. Talirasa yang dua puluh macam itu berjumlah tiga puluh buah, terletak di tiga puluh tempat dalam tubuh manusia.
Macam nama diambilkan dari nama2 hurup Jawa yang jumlahnya dua puluh.
Duapuluh macam nama, tiga puluh talirasa tersebut adalah:
1. "Ha" yang terletak dipangkal lidah (Bhs.Jw.: tenggok)
2. "Na" pada pangkal leher bagian depan, pada arah lurus dengan letak pipa napas bercabang.
3. "Ca" ditengah-tengah tulang dada (Jw.: Iga malang).
4. "Ra" pada ujung tulang dada (kecer ati).
5. "Ka" tepat pada pusat (puser).
6. "Da" di "bathukan", sebelah atas kelamin.
7. "Ta" pada tulang ekor.
8. "Sa" pada rulang belakang (ula2), segaris lurus dengan "ka".
9. "Wa" dibawah tulang belikat (enthong2). (2)
10. "La" tepat di tengkuk.
11. "Pa" diketiak kiri dan kanan. (2)
12. "Dha" pada siku bagian depan (lipatan siku). (2)
13. "Ja" terletak pada pergelangan tangan, bagian depan. (2)
14. "Ya" ditelapak tangan. (2)
15. "Nya" dibawah kedua tetek. (2)
16. "Ma" pada pangkal kedua selangkangan. (2)
17. "Ga" dibagian depan lutut.(2)
18. "Ba" pada kedua pergelangan kaki. (2)
19. "Tha" terletak dikedua telapak kaki. (2)
20. "Nga" terletak tepat ditengah antara dua kening.

Ke tiga puluh buah talirasa merupakan alat bagi usaha penyembuhan.
Sarinya sari2 bumi dalam tubuh manusia merupakan "Makhluk" dengan getaran2 hidup yang paling sempurna sesudah Sinar Cahya Allah dan Rokhani.Kemampuan yang mendekati unsur aslinya (Sinar Cahya Allah) merupakan faktor penting dari sarinya sari2 bumi untuk dimanfaatkan dalam usaha penyembuhan.
Sarinya sari2 bumi pada keadaannya , merupakan suatu dalam tubuh yang memiliki getaran-getaran hidup meskipun tidak se sempurna tubuh manusia dimana itu terjadi.


hal 6
C.2.2. Unsur Jasmaniah Abstrak.
Nafsu-nafsu, cipta, rasa dan karsa jasmaniah merupakan unsur jasmaniah yang abstrak.
Dalam Simbol Pribadi Manusia, nafsu2 digambarkan sebagai lingkaran dalam warna: hitam, merah, kuning dan putih.
Nafsu2 hitam, merah dan kunng adalah nafsu2 yang betul2 bersifat jasmaniah. Sedang nafsu putih meskipun timbul dari Rokhani, dengan melihat faktor pengaruh jasmaniah yang menyebabkan timbulnya nafsu itu, digolongkan sebagai nafsu jasmaniah.
Nafsu2 diperbanyak macamnya dan dimiliki oleh "Saudara" dalam pribadi manusia yang ditandai dengan dua belas nama. Macam2 nafsu merupakan watak, sifat dan kelakuan daripada Saudara manusia yang dua belas macam itu.
Dihitung dengan angka, saudara manusia dalam pribadinya ada 14 tempat.
Adanya dapat dibuktikan dengan rasa dan mata batin. wujud,rasa, tabiat, watak, dan sifatnuya.
Penelitian pada hal itu menunjukkan selain Rokhani sebagai salah satu saudara, saudara yang lain yang bernama Bagindakilir dapat dimanfaatkan sebagai alat dalam penyembuhan. Bagindakilir terletak pada ujung jari2 tangan kanan-kiri.
Cipta, rasa dan karsa jasmaniah dapat dipandang sebagai alat dalam usaha penyembuhan. Sebab, pada waktu dilakukan penyembuhan cipta harus diam, rasa seolah-olah harus dimatikan dan karsa harus sepenuhnya tertuju pada keinginan untuk sembuh; boleh dikatakan semacam sugesti.

hal 7
C.2.3. Unsur-unsur Rokhaniah.
Rokhani manusia mempunyai Cipta, Rasa dan Karsa. Dihubungkan dengan cipta, rasa dan karsa jasmaniah : Cipta dan Karsa Rokhaniah merupakan pendukung utama bagi kesempurnaan kerja cipta dan karsa jasmaniah. tanpa Cipta dan Karsa Rokhaniah, cipta dan karsa jasmaniah tak akan dapat berfungsi.
Rasa Rokhaniah yang berfungsi sebagai unsur hidup terdapat diseluruh tubuh, memegang kemudi terhadap rasa2 jasmaniah manusia.
Cipta Rokhani bertugas mengadakan hubungan dengan Hyang Maha Kuwasa. Mencapai tempat2 yang dikehendaki dengan "Gelombang pikiran" dengan tenaga/ daya penggerak berupa Karsa Rokhani. Cipta Rokhani juga bertugas menuntun cipta dan karsa jasmaniah untuk berjalan pada jalur yang benar.
Karsa Rokhani merupakan penggerak Rokhani termasuk Cipta dan Rasanya. Boleh dikatakan Karsa Rokhani merupakan cerminan dari Karsa/Kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Tentu saja karena hanya cerminan, Karsa Rokhani mempunyai kemampuan yang terbatas.
Melihat pada tugas Cipta, Rasa dan Karsa Rokhani; dapatlah diyakinkan bahwa itu dapat dimanfaatkan untuk usaha penyembuhan.
Keyakinan itu akan makin kuat jika dimengerti tugas sebenarnya daripada Rokhani terhadap manusia yaitu sebagai pamomong, penuntun jasmani agar jasmani bahagia, tenteram selamat dalam menjalankan segala gerak kehidupannya.
Untuk membedakan Sinar Cahya Allah dalam pribadi manusia dengan Sinar Cahya Allah yang ada diluar pribadi manusia, Sinar Cahya Allah dalam pribadi disebut sebagai unsur Rokhaniah.
Karena fungsinya sebagai pendukung untuk keberadaan segala sesuatu didalam tubuh, maka unsur Rokhaniah ini jelas mempunyai kemampuan. Kemampuan Sinar Cahya Allah dalam pribadi ini dapat dimanfaatkan sebagai alat penyembuhan.

hal 8
C.3. Cara Penyembuhan.
Ada lima cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan :
Sabda Usada, Menggarap Talirasa, Sujud, Ulah Rasa dan menggerakkan Bagindakilir (Nur Rasa).
C.3.1. Penyembuhan dengan sabda Usada.
Dilakukan untuk penyembuhan terhadap orang lain, jarak jauh atau jarak dekat. Caranya :
- Didahului dengan ening dirasakan berkumpulnya getaran-getaran hidup berkumpul di-ubun2 tempat Rokhani bersemayam. Getaran-getaran hidup tersebut ditarik oleh Rokhani. Tentu saja tidak semuanya, sebab masih diperlukan dukungan untuk menggerakkan seluruh atom, sel, komponen tubuh.
Pada saat ketiga getaran hidup berkumpul, pada saat itu pula ubun2 "terbuka" dan melesatlah Cipta Rokhani dengan tenaga penggerak karsa Rokhani, menuju sumber segala keberadaan.
- "Diperhatikan" batin Rokhani mengucap: Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil.
- Dirasakan Sinar Cahya Keagungan, Kerokhiman, Keadilan Tuhan masuk dalam pribadi dan meleburperpaduan ketiga getaran2 hidup menjadi "daya/kekuatan" yang untuk mudahnya dinamakan "atom berjiwa", atom2 rokhaniah yang dapat dikendalikan oleh Rokhani.
- Diperhatikan selanjutnya,batin Rokhani mengucap: Hyang Maha Kuasa nyabda si A waras (Hyang Maha Kuasa menyabda si A sembuh).
- Dirasakan getaran pengaruh atom berjiwa turun kemulut.
Keluar dorongan ucapan: Waras !
- Dikirimkan atom berjiwa oleh Cipta dan Karsa Rokhani kepada penderita. Untuk jarak dekat kiriman langsung ditujukan pada bagian yang sakit.

hal 9
C.3.2. penyembuhan dengan menggarap Talirasa.
Dilakukan untuk penderita sakit ingatan, atau sakit yang ada hubungannya dengan kerja sarap, sakit karena ada bagian badan yang kurang/tidak sehat. Caranya :
-Ening, dibentuk atom berjiwa.
- Talirasa yang berhubungan dengan badan yang sakit (pada penderita) diputar-putar (diuyek-uyek) dengan jari tengah tangan kanan sambil atom berjiwa disalurkan ketubuh sisakit melalui itu. Apabila Rokhani memandang sudah cukup, sabda waras dikeluarkan sambil getaran Sinar Cahya Allah dalam pribadi dikirimkan untuk menyempurnakan pekerjaan itu.
Usaha penyembuhan ini dilakukan oleh "pelantar" dari jenis kelamin yang sama dengan penderita. Jika tidak memungkinkan, penyembuhan dilakukan dengan Sabda Usada, atau dengan cara menggarap Talirasa dengan kesaksian keluarga penderita yang menunggui usaha penyembuhan itu.
Syarat tersebut dikenakan dan harus ditaati untuk menjaga kesusilaan, kehormatan dan mencegah timbulnya hal2 yang tidak baik.
hal 10
C.3.3. Penyembuhan dengan jalan Sujud.
Dilakukan oleh penderita yang menginginkan kesembuhan.
Sujud berguna untuk : meleremkan dan mengendalikan nafsu mendudukkan Rokhani pada tugas sebenarnya, mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjaga kesehatan (sebagai manfaat sampingan). Dapat juga dipergunakan sebagai usaha penyembuhan.
Dalam sujud, getaran2 hidup ditarik rokhani dan berkumpul di-ubun2.Pada saat Rokhani kontakdengan sumber hidupnya, Sinar-sinar Cahya dalam sifatnya yang masih murni masuk dan meresap kedalam pribadi manusia. Sinar-sinar Cahya Allah itu melebur gabungan tiga unsur menjadi atom berjiwa dan menyempurnakan getaran2 hidup yang lain sehingga kerja daripada atom, sel, komponen makin dan lebih seimbang. Penggantian atom2 yang tidak fungsional dan perbaikan alat yang mengalami ganguan makin dipercepat.
Dalam melakukan sujud untuk penyembuhan; Sinar Cahya Allah dalam sifatnya yang masih murni yang masuk kedalam pribadi, atom berjiwa yang terbentuk; seluruhnya dapat ditujukan dan dikumpulkan pada bagian tubuh yqang sakit.

hal 11
C.3.4. Penyembuhan dengan Ulah Rasa.
Ulah rasa dilakukan untuk: menyelaraskan kembali getaran-getaran hidup yang belum sempurna bekerjanya, yang mana tidak bisa dicapai pada waktu menjalankan sujud.
Ulah rasa yang dijalankan setelah sujud selesai dilakukan ini, pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
- Telentang, lurus, tangan disamping badan, telapak tangan menghadap keatas. Semuanya serba kendor; otot, daging, sarap, pakaian,. Napas diatur seenak dan sehalus mungkin.
Mata terpejam, cipta-rasa-karsa jasmaniah diam.
- Ening, ubun2 dibuka, rasakan getaran2 yang ditarik oleh Rokhani sejak ujung jario kaki sampai terkumpul diubun-ubun.
- Rasakan turunnya getaran dari ubun2, rasakan getaran2 merayap keseluruh bagian tubuh, menyempurnakan getaran2 lain yang tertahan ("beku"), rasakan getaran2 membuka simpul sarap (talirasa), dan akhirnya merasalkan sampai diujung kaki kembali.
Dengan penyelarasan getaran2 hidup , kesehatan akan lebih terjamin. Lebih lanjut dapat dilakukan hal berikut.
Sesudah merasakan getaran2 yang turun dari ubun2 sampai keujung jari2 kaki, dapat dirasakan keluar masuknya hawa melalui pori2 kulit, lama2 dapat terasa se-olah2 napas tidak hanya melalui hidung, tapi juga melalui seluruh permukaan badan. Terasa bahwa badan memang sebetulnya bukan barang yang betul2 padat melainkan seperti saringan. Dalam keadaan ening demikian Sinar-sinar Cahya Allah diluar tubuh lebih banyak "diisap" dan bersama-sama getaran hidup yang ada dalam tubuh "membunuh" bibit2 penyakit yang akan keluar bersama keluarnya keringat.
Dapat dirasakan pula denyutan jantung, mengalirnya darah dalam pembuluh, getaran simpul2 sarap, merayapnya getaran hidup melalui sel2 dalam tubuh, dan lain2 yang bisa dirasakan . Bagian-bagian yang dirasakan akan menjadi lebih kuat dan tahan lama. Itulah cara menjaga kesehatan dengan ulah rasa.


Untuk mengusahakan kesembuhan dapat dilakukan dengan menggerakkan Nur Rasa (Bagidakilir), yaitu sesudah getaran2 hidup berkumpul di-ubun2. Nur Rasa dapat diminta untuk menyembuhkan bagian badan yang sakit.
hal 12
C.3.5. Penyembuhan dengan menggunakan Bagindakilir.
Berlainan dengan cara menggerakkan Bagindakilirdalam ulahrasa, cara ini dilakukan dalam rangkaian pesujudan.
Cara penyembuhan ini jarang dilakukan. Selain kesannya kasar hingga kadang2 aneh dan menggelikan, sisakit yang bersangkutan bisa merasa malu meskipun hanya untuk sementara.
Pada keadaan2 tertentu, misalnya pada orang yang kurang puas/manteb dengan cara halus, gerak Bagindakilir dipergunakan untuk penyembuhan.
Sesudah sujud wajib dilakukan, bungkukan badan dalam sujud ditambah satu kali. Pada kali terakhir ini Rokhani meminta pada Bagindakilir untuk bergerak mengusahakan kesembuhan.
Sesudah ucapan selesai, badan kembali duduk tegak kemudian tangan diatur dalam sikap sembah. Setelah itu tangan dengan sendirinya bergerak, menjamah, mengusap, menepuk, memukul atau menggerakkan bgian2 badan yang sakit. sampai berhenti dengan sendirinya atau diminta.
Untuk orang2 yang sudah "halus" Rokhaninya, gerak tersebut juga makin halus.
dalam hal sisakit belum bisa menggerakkan baginda kilir, tuntunan sujud dapat minta geraknya Bagindakilir sisakit kepada Tuhan.
hal 13
C.4. Pengertian.
Penyembuhan yang dikemukakan pada pelaksanaannya menunjukkan cara2:
1) Penggabungan tiga unsur getaran2 hidup.
2) pembentukan atom berjiwa.
3) Pengiriman dan pemanfaatan atom berjiwa.
4) Menghilangkan gangguan2 terhadap kelancaran tugas getaran2 hidup.
5) Menyelaraskan dan menyeimbangkan tata kerja atom, sel, komponen tubuh.
6) Menguatkan atom2, sel2, komponen2.
Penyembuhan dengan cara itu sebenarnya merupakan pengembangan dari suatu proses yang sudah ada.
Dalam tubuh, atom2 berjiwa selalu terbentuk dengan sendirinya. Berlangsung secara organis, tanpa disadari. Secara organis sarinya sari2 bumi berkumpul dengan getaran2 Sinar Cahya Allah dan getaran Rasa Rokhaniah membentuk atom berjiwa, hormon2, energi atau entah apa namanya.
Dengan ening, sujud, dsb. pembentukan atom berjiwa dapat dilakukan setiap saat dengan proses yang dapat diikuti secara sadar. Penyebaran ataupun konsentrasi atom berjiwa bisa dikehendaki dan digunakan; terkendali dan terarah pada sasaran yang dimaksud.
Pembentukan atom berjiwa cara Rokhaniah dapat dikatakan ,(sebagai salah satu bagian dari kemungkinan yang timbul),merupakan proses pembuatan obat didalam tubuh manusia.
tak berbeda dengan obat yang dikenal dalam bidang medik yang mana juga mengandung unsur Sinar Cahya allah didalamnya, setelah masuk kedalam tubuh akan bertemu dengan Sinar Cahya Allah dan getaran2 hidup yang lain kemudian diubah sebagai atom2 yang mampu menghilangkan sakit.
Dua hal diatas memberikan pengertian bahwa: Penyembuah dengan menggunakan dua cara (medik dan medik Rokhaniah, tak dapat diragukan merupakan cara penyembuah yang sangat efektip.
Pengetahuan medik memberikan obat dengan khasiat tertentu atau khusus yang efektip sebagai alat penyembuh. Pengertian non medik (Rokhaniah) memberikan cara membuat atom berjiwa sebagai obat; cara yang langsung berguna untuk menyempurnakan kemampuan obat medik. Selanjutnya efektifitas daripada gabungan dua macam obat ini dilakukan dengan menyalurkannya secara penuh pada bagian tubuh yang membutuhkan.

Penyembuhan non medik sebagaimana diungkapkan selalu :
1) Dilakukan dalam keadaan ening.
2) Rokhani memegang peranan utama.
3) Disebut dan dimintakan Kekuasaan Tuhan.
4) Disempurnakan gabungan tiga unsur getaran2 hidupmnjadi atom berjiwa oleh Sinar Cahya Allah dalam sifatnya yang masih murni.
Tersebut diatas memberikan pengertian bahwa, dalam usah penyembuhan non medik macam itu :
1) Manusia tidak mempunyai peran apa2 selain sebagai alat.
2) Semua tergantung pada Ulah Rokhani dan Kehendak Tuhan.
Dengan demikian tak layaklah jika mausia menyombongkan diri sebagai yang berkemampuan melakukan penyembuhan. Kemampuannya hanyalah sebagai pemegang peran "pelantar/perantara" saja.
Ketergantungan manusia terhadap Rokhaninya dan Tuhan merupakan suatu tanda bahwa kemampuan manusia terbatas adanya.
Lebih-lebih jika dimengerti bahwa Rokhani sendiri sebenarnya dalam mengembangkan kemampuannya tergantung keadaan dalam pribadi manusia sendiri.
Mampukah nmanusi dalam menggunakan cipta rasa dan karsanya tidak dibawah pengaruh nafsu2; bagaimanakah keadaan Rokhani sejak sebelum lahir dan sesudah menjalankan kehidupan didunia nyata.
Keadaan Rokhani sejak sebelum lahir, selama kehidupan jasmaniah berlangsing, sifat/watak dasar, perkembangan cipta rasa, karsa manusia mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan Rokhani.
Digunakannya nama dan kekuasaan Tuhan membuat lebih tak pantas jika manusia menggunakan "kemampuan" yang ada dalam dirinya sebagai pelantar kesembuhan untuk tujuan mencari keuntungan atau uang.
Dalam hal ini wajiblah syaratnya, jika pertolongan yang diberikan adalah tanpa pamrih apapun kecuali untukl kesembuhan dan kebahagiaan orang lain, dan dilakukan denga pengertian serta kesadaran bahwa tersebut hanyalah sekedar melaksanakan KeRokhiman Allah.
Komersialisasi Nama dan Kuasa Tuhan jelas merupakan suatu hal yang tak bisa dibenarkan. Hukum Tuhan mungkin akan menimpa terhadap pelanggaran ketentuan ini.
Ketergantungan manusia pada Rokhani dan Tuhan memberikan pengertian bahwa : Kemampuan sembuh pada seseorang sakit pada hakekatnya terletak/tergantung pada sisakit sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan.
Artinya sembuh dan tidaknya tergantung atas Kehendak?Kuasa Tuhan. Oleh karenanya sudah wajarlah jika manusia sewajibnyalah selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan baik selama sehat, lebih2 dalam keadaan sakit.
hal 14
D. Penutup
Naskah ini bukan bermaksud mengemukakan suatu hipotesa bukan pula mengajukan semacam tese. Karenanya tidaklah didapati adanya "argumentasi" ataupun bukti2 yang mendukung komentar yang dikemukakan.
Mungkin juga inti dari isi naskah lepas dari maksud diadakannya seminar yaitu tidak diberikannya suatu yang mantab yang merupakan suatu kesimpulan, karena memang tidak dikemukakan suatu analisa yang menuju kepada kesimpulan itu.
Apa yang diajukan adalah hasil penelitian pribadi yang sifatnya umum, artinya bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, umum lebih2 kedudukan. Hasil yang sulit diungkapkan menurut disiplin ilmiah yang benar. Bahkan ungkapan mengenai "apa dan bagimana adanya" mungkin tidak logis, irasionil menurut pertimbangan akal dan pikir.
Namun hal itu bukan merupakan suatu sebab bagi ketidakmungkinan dibukanya ruang diskusi/sararehan meskipun sebenarnya sulit untuk dilakukan. Sebab sebagaimana dimaksudkan bahwa semuanya merupakan pengalaman pribadi dalam arti "pengalaman batin" yang diperoleh dengan pengolahan/penggulowentahan Rasa dan Rokhani. Suatu yang abstrak yang sulit untuk diceriterakan dengan kata2, ataupun diperagakan dengan alat2 bukan abstrak. Lagipula suatu forum diskusi jelas membutuhkan media komunikasi berupa "bahasa" yang sama.
ketidak samaan "bahasa" dalam diskusi dapat membuat jalan bersimpang tanpa menghasilkan kesimpulan ataupun sesuatu yang bermanfaat.
Akhir kata, kepada Panitia Seminar dan juga kepada IDI (Ikatan Dokter Indonesia), atas nama seluruh Warga Kerokhanian Sapta Darma kami menyampaikan terima kasih kami, atas pemberian waktu dan kesempatan untuk menyampaikan isi dan inti daripada naskah ini, yang merupakan dasar pengertian daripada Ajaran Penyembuah menurut Kerokhanian Sapta Darma.
Semoga Seminar ini bermanfaat bagi kemanusiaan, dengan perkenan Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim dan Maha Adil.


Terima kasih.


Yogyakarta, 3 Maret 1979

ttd



(Sri Pawenang)

Πέμπτη, 30 Ιουνίου 2011

Lelampahan Bopo Sri Gutomo ( kaca 33 )

free counters

+


DASA – WARSA
AGAMA SAPTA DARMA
( 10 th usia A.S.D. )


Disusun oleh
SRI PAWENANG
Juru Bicara Panuntun Agung
AGAMA SAPTA DARMA

________________________________________________________
Dikeluarkan oleh :
YAYASAN SRATI DARMA

________________________________________________________
Dilarang mengutip atau mencetak atau menjual buku ini.



SEMBOYAN
Dimana Saja, Kepada Siapa saja warga Sapta Darma harus bersinar laksana Surya (Baskara).

Foto PANUNTUN SRI GUTAMA

Pengantar Kata.
Kita sambut dengan gembira keluarnya Buku Peringatan 10 tahun timbulnya Agama Sapta Darma di Indonesia ini ialah sejak ilham yang pertama2 diterima oleh Panuntun Sri Gutama di Pare Kediri (Jawa Timur) ialah tanggal 27 December 1952 sampai sekarang tanggal 27 December 1962.

Sepuluh tahun kita para warga Agama Sapta Darma diberi petunjuk jalan serta diasuh oleh Panuntun kita Bapak Sri Gutama Pencipta Agama Sapta Darma yang tiada mengenal payah. Serta didalam menjalankan tugas2 Hyang Maha Kuasa selalu disertai ketenangan, ketegasan serta ketabahan, menghadapi segala empasan gelombang.

Achirnya sepuluh tahun telah lampau, kita warga Agama Sapta Darma beramai-ramai dengan penuh kesederhanaan dan kemeriahan memperingati Dasa Warsa genap 10 tahun usia Agama Sapta Darma ini yang dihadliri oleh segenap Tuntunan Agama Sapta Darma dari seluruh Indonesia, di Kediri.

Alangkah terharunya hati kami setelah Panuntun Agung kita Bapak Sri Gutama memberikan ulangan2 yang sangat tinggi nilainya kepada para Tuntunan untuk diteruskan kepada seluruh warganya dari seluruh penjuru tanah air ialah kesempurnaan penelitian pasujudan Agama Sapta Darma yang nanti akan kami muat didalam buku ini, agar dapat dipakai sebagai pedoman Saudara2 didalam mencapai kesempurnaan menyembah kehadapan Hyang Maha Kuasa, serta dapat mencapai ketentraman hidup serta kewaspadaan pribadi, serta mengerti akan kesempurnaan hidup yang sejati.

Maka patutlah saat yang bersejarah itu kita peringati, kita camkan betul2 apa arti dan maksudnya kita menggali rasa kita yang meliputi seluruh tubuh atau kita menggali kepribadian kita yang asli.

Tiada kami lupakan kepada Sdr. Sugijo dari Staf Panuntun Agung atas bantuannya dan saran2 dari Bapak Kapten Alri Slamet dalam menyusun Buku ini. Dan tentulah senantiasa tegur dan sapa dari para pemakai kami nantikan, demi kesempurnaan Buku ini dalam penerbitan jad. Semoga buku ini bermanfaat bagi para pemakai.
Kediri, 27 December 1962.
SRI Pawenang.
Notulen (= tambatan)
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Petuah-petuah
PENUNTUN AGUNG AGAMA SAPTA DARMA
Bapak SRI GUTAMA
.
Pada upacara Peringatan 10 tahun Agama Sapta Darma yang dihadliri oleh Segenap Tuntunan Agama Sapta Darma seluruh Indonesia.
--- di Kediri ---
(Dua malam berturut-turut ialah tanggal :27/28 dan 28/29 December 1962).
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Tanggal: 27/28 December 1962.
Mulai jam : 22.25
.

Para hadlirin sekalian Yth.
Bapak2 Tuntunan Agama Sapta Darma dari seluruh Tanah Air Indonesia.
Pertama-tama minta maaf apabila didalam uraian kami nanti terdapat kekurangan2, kekhilafan2 dan kesalahan2 baik disengaja maupun tidak disengaja.
Disamping itu disini kami sampaikan banyak2 terima kasih kepada Tuntunan Agama Sapta Darma Propinsi Jawa –Timur, yang kami serahi untuk menyelenggarakan peringatan ini, dan atas nama para yang hadlir, kami minta maaf sebesar-besarnya.
Selanjutnya yang per-tama2 kami akan berbicara pada para tuntunan2 dari seluruh Indonesia yang pada malam hari ini hadlir disini.

Saudara2 para Tuntunan Yth.
Tugas tuntunan adalah berat, berat sekali, mampu tidaknya melaksanakan tugasnya tergantung pada kemauan, keinsjafan dan keikhlasannya.
Menjadi Tuntunan berarti
mengabdi, yaitu mengabdi warga.
Ia bertugas
meninjau ketempat-tempat para warga dipelosok-pelosok,
menuntun /mengajar serta membimbing mereka untuk berdarma dalam hidupnya,
demi tercapainya cita2 luhur / satria utama.

Jadi apabila terdapat kesalahan2 pada warga didalam menjalankan / melaksanakan ajaran Agama Sapta Darma, sebenarnya
sumber kesalahan itu terletak pada pundak Sdr2. Tuntunan sekalian.
Mengapa demikian ?.
Sebab banyak para Tuntunan Agama Sapta Darma yang
hanya simbolis saja, dalam arti
belum melaksanakan fungsi dan tugasnya.
Ia bahkan tidak mau bersatu/menyatukan diri,
tidak membimbing warganya, melainkan
seperti majikan,
minta didewa-dewakan,
tidak memberi contoh berdarma kepada warganya, dsbnya.

Padahal sebenarnya Saudara2 dapat berdarma sesuai dengan kemampuan dari pada :nafsu, budi dan pakartinya.
Alasan tidak adanya waktu, hal ini tidak dapat kami terima, sebab dalam hidup kita harus membagi waktu dari 24 jam itu misalnya:
8 jam untuk cari makan (bekerja).
7 jam untuk tidur.
2 jam untuk istirahat.
2 jam untuk bersenang-senang misalnya: nglencer (jalan2).
5 jam untuk mengolah rochani.

Saudara2 sekalian Yth.
Saya kira 5 jam telah cukup untuk mengolah rochani sambil berdarma demi tercapainya budi luhur. Kaya darma adalah ciri yang khas daripada manusia yang Sosialis Revolusioner. Lihatlah pada Symbol Sapta Darma (symbol pribadi manusia), ada tertulis nafsu, budi dan pakarti berarti Revolusionair (gerak cepat kearah perbuatan yang baik) sedangkan kata “Darma” disitu berarti Sosialis.
Jadi kalau Saudara betul2 menjadi Tuntunan berarti mempunyai jiwa yang “Sosialis Revolusionair”. Maka apabila Saudara2 memiliki jiwa Sosialis revolusionair, laksanakanlah tugas Tuntunan itu.
Tetapi apabila memang Saudara tak mampu, tak sanggup, sehingga Saudara2 hanya jadi symbol saja, atau bersifat sebagai majikan saja, maka lebih baik letakkanlah dan serahkanlah kembali tugas Tuntunan itu, dan
jadilah warga biasa.
Warga2pun insjaflah tentang pentingnya berdarma itu.
Darmakanlah mengenai hidup rochanimu.
Darmakanlah hasil penggalian pribadimu
.
Rochani=jiwa=rasa.
Kaya darma rochani berarti kaya darma rasa.
Bahasa Jawa = Dana Rasa.

Saudara2 sekalian Yth.
Manusia hidup diliputi/dipengaruhi oleh 3 getaran, yaitu getaran dari tumbuh2an, getaran dari binatang, getaran dari cahaya.
= Hidup tumbuh2an adalah tidak sempurna, karena hanya memiliki nafsu saja, ialah nafsu untuk mencari makan. Lihatlah akar dari pada tumbuh2an tersebut menembus apa saja yang menghalang-halangi dalam usahanya mencari makan.
=Hidup binatang juga kurang sempurna karena memiliki nafsu, dan budi. Maka hidup binatang lebih tinggi daripada hidup tumbuh2an.
Suatu usaha mempertahankan jenis (misalnya : melindungi anak2nya), adalah budi yang ada pada binatang.
= Manusia adalah makhluk yang sempurna; karena mamiliki nafsu-budi dan pakarti.
Maka hidup manusia adalah sempurna dan tertinggi.

Saudara2 sekalian Yth.
Makhluk2 yang kurang sempurna saja banyak memberi darma. Lihat saja tumbuh2an berguna bagi binatang juga bagi manusia. Demikian pula binatangpun berguna bagi hidup manusia. Selain tenaganya didarmakan kepada manusia, kalau perlu sampai nyawanyapun misalnya ayam, ia menyerahkan lehernya apabila kita kehendaki.
Nyatalah bahwa binatang dan tumbuh2an sebagai isi dunia ini besar darmanya bagi manusia. Lalu bagaimana dengan kita manusia sebagai machluk yang sempurna ini ? Apa darma kita kepada sesama hidup ? Maukah kita dikalahkan oleh tumbuh2an dan binatang ?

Saudara2 sekalian Yth.
Sekarang apakah yang dapat kita darmakan ?
Yang dapat kita darmakan adalah Nafsu, budi, pakarti yang baik.
Apabila kita mengenyam buah, apa yang kita nikmati ialah rasanya. Demikian pula yang kita darmakan ialah rasa kita yang baik, budi pakarti kita yang baik, sehingga biar bisa dikenyam oleh sesama hidup.
Getaran tumbuh2an dan binatang yang kita makan ini mempunyai pengaruh juga terhadap tata hidup kita, dan pengaruh itu ada yang baik dan ada yang buruk. Sifat yang jelek antara lain ialah sifat malas, iri hati, suka mencela, benci dsb-nya. Semua sifat tersebut adalah sifat yang mengotori kepala kita dan bahkan menunjukkan kekurangan diri.
Membasmi sifat2 itu berarti kita menghimpun sifat2 yang baik. Himpunan getaran2 yang sempurna akan mendorong manusia bertindak baik dan berjiwa Sosialis revolusionair. Menjadikan manusia terhormat dan satria utama. Hanya satria utamalah yang dapat menghayu-hayu bahagianya buwana, dan berbudi bawa leksana.

Saudara2 Yth.
Semua itu adalah penunjuk / kritik dan teori demi tercapainya keluhuran budi Saudara2 sendiri untuk mengolahnya. Jadi Saudara2 mempunyai hak untuk mengoreksi dan selanjutnya menggali sendiri. Ingatlah saja bahwa kita manusia adalah makhluk yang tertinggi jadi janganlah kita mau dijajah/jangan mau kalah dengan tumbuh2an dan binatang2.

Saudara2 Yth.
Renungkan keterangan2 diatas. Rasakanlah baik2, sebab saja tak pandai mengutarakan.
Lalu bagaimana caranya supaja kita tidak dijajah oleh getaran2 yang kurang sempurna ?
Caranya ialah jujur, jujur sekali lagi jujur.
Kita jujur terhadap siapapun,
terutama terhadap hidupnya sendiri.

Tingkah laku hidup manusia dikemudikan oleh getaran2 yang ada dikepala.
Apabila getaran2 tumbuh2an yang memenuhi kepala, maka
manusia yang demikian akan bersikap malas,
dan apabila getaran2 binatang yang menguasai, maka meskipun ia giat, tindakannya akan kurang baik.
Karena itu, galilah,
telitilah selalu getaran2 yang menguasai dirimu,
agar segala tingkah lakumu selalu didorong oleh getaran2 yang sempurna.
Ingatlah bahwa darmamu akan selalu diingat/dikenang oleh orang yang diberi darma.
Dengan mencintai hidupnya, mencintai sesama umat, maka berarti ia menjunjung tinggi dirinya, bangsanya dan negaranya.

Saudara2 Yth.
Meskipun Agama Sapta Darma perkembangannya laksana air laut yang berarti senantiasa pasang surut serta bergelombang, namun dalam pertumbuhannya dan perkembangannya selama 10 tahun ini warganya telah berjuta-juta.
Sebab semua mengenyam hasil2nya . Alangkah baiknya apabila hasil2 itu diamalkan/ didarmakan pada sesama. Dengan demikian Agama Sapta Darma akan lebih pesat lagi perkembangannya.
Banyak diantara Tuntunan dan warga yang
meributkan soal perlunya berdiri sebuah sanggar ditempatnya.
Ini sebetulnya kurang kami setujui.
Mengapa ?
Saudara sekalian berdarma saja belum;
sujudnya masih korat-karit,kok meributkan soal berdirinya sanggar.
Jangan demikian Saudara2. Yang penting disini ialah:
Galilah rasamu yang sempurna,
jangan meributkan soal sanggar.
Perbaikilah budi pekertimu dahulu,
bersihkanlah kepalamu dari kekotoran.
Janganlah seperti udang yang selalu membawa kotoran dikepalanya.
Maukah Saudara2 disamakan dengan udang ?.
Maka sempurnakanlah dahulu hidupmu.
Galilah kepribadianmu yang asli kemudian amalkanlah. Darmakanlah.
Soal cita2 sanggar itu mudah nanti.

Saudara2 Yth.
Soal nama Sri Gutama saja jadi rebutan. Banyak yang ingin menyebut dirinya Sri Gutama.
Silahkan kalau memang konsekwen. (Jawa = sembada).
Yang selalu membimbing umat kepelosok-pelosok,
berani meninggalkan kepentingan dirinya sendiri,
hanya cinta dan berdarma kepada umat
.
Dapatkah Saudara memisahkan antara Sri Gutama dan Harjasapura ?
Yang mana Sri Gutama ? Yang mana Harjasapura ?
Kalau Saudara2 sujud melihat Sri Gutama seperti apa ?
Apakah melihat Sri Gutama Harjasapura Pare ?
Atau melihat Sri Gutama pak Dirja, pak Salam.
Diantara para hadirin menyawab serentak. Melihat Sri Gutama Harjasapura Paree.
Betul ? Jawab : Ya.
Nah. Saudara2 sekalian
Jangan Saudara sampai tertipu itu semuanya,
malah akan merugikan dirimu sendiri, sedang
soal kecil diperbesar.

Saudara2 hadirin Yth.
Modal jadi Satria utama, ialah jujur dan cinta.
Baik terhadap dirinya sendiri, maupun terhadap sesama
.
Untuk itu diperlukan kemauan yang keras dan kesanggupan yang penuh dalam usaha menggali pribadi saudara yang asli, atau hidup yang sempurna. Dimana hasilnya didarmakan.
Bila kita benar2 bisa melaksanakan, percajalah, bahwa Saudara2 akan dapat menjadi contoh, menyadi pelopor, sehingga akhirnya bangsa kita akan jadi pelopor umat/bangsa didunia.
Sekianlah dahulu Saudara2.
Achirnya resapkanlah, dan renungkanlah dalam2 uraian kami tersebut. Apabila kurang puas, kritiklah, debatlah.
Jam: 23.10.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Uraian Panuntun Agung fase ke II. Jam: 24.55
Bapak2. Ibu2 Yth.
Kami menangis, karena melihat kenyataan banyak warga, dalam menjalankan wewarah Agama Sapta Darma belum dapat melaksanakan sebagaimana mestinya. Karena itu dibawah ini ada petunjuk2 yang benar. Kami berharap mendapat perhatian/penelitian yang sepenuhnya, sehingga dengan demikian benar2 dikuasai dengan betul. Dan buahnya nanti dapat kita kenyam benar2 dan dapat Saudara sebarkan serta turunkan kepada anak cucu kita nanti.

Saudara2 Yth.
Sujud yang sempurna dalam pasujudan Agama Sapta Darma bergandengan erat dengan biji dan asal mula manusia.
Sujud Agama Sapta Darma berarti pula sujud tentang asal mula manusia. Berarti yang dapat merasakan rasa yang semulia-mulianya.
Apakah asal mula manusia itu ?
Ialah dari getaran tumbuh-tumbuhan dan getaran dari binatang yang kita makan, dan akhirnya berwujud air putih (air suci); dengan sinar cahaya (tri-tunggal).
Didalam pertanian misalnya, apabila kami inginkan hasil yang baik, maka dipilihlah bibit yang baik, bibit yang unggul, bibit yang sempurna.
Sebab dengan bibit yang demikian, tanaman kita mengharapkan buah/hasil yang baik pula.
Dalam kehidupan kita manusia, kita akan men-cita2kan mempunyai anak yang baik, seperti anak yang cerdas, bagus, cantik, sehat, bijaksana dsb.-nya. Akan tetapi adakah kita perhatikan bibitnya ? Ternyata tidak bukan ? Bahkan biji manusia diecer-ecer di-mana2, disebarkan pada tempat2 gelap, tempat yang tiada layak, dsb.-nya. Sebab menanam biji yang sempurna terletak pada Bapak2 semua. Kenakalan, kebodohan dan kekurang sempurnanya anak2 yang dilahirkan, adalah kekeliruan orang tua dalam memelihara bijinya. Karena itu hematlah dengan biji manusia. Janganlah menuruti nafsu buasnya saja. Misalnya saja, habis menanam di-warung2 atau ditempat2 gelap, kemudian menebarkan disawahnya sendiri sampai dirumah.
Lalu bagaimana hasilnya ?
Atau Sdr. habis main judi, lihat barang2 yang jelek2, sampai dirumah terus menebarkan biji. Bagaimana hasilnya nanti anak2 kita ? Tentu saja akan jelek bukan ? Sebab getaran2 yang buas yang jelek masih ter-kenang2 dikepala. Padahal getaran2 tersebut akan turut pula tersaring dalam menurunkan biji2 manusia, dan turut pula tertanam didalamnya.

Bapak2 sekalian Yth.
Ciptakanlah anak2/keturunan Sapta Darma yang baik, yang sempurna. Ciptakanlah anak yang cerdas, yang berbudi luhur, anak yang utama, anak yang baik dengan jalan memelihara biji manusia yang sempurna. Karena itu perlu Saudara2 sekalian mengolah biji manusia itu. Tentu saja caranya dengan jalan sujud.
Karena seperti pernah sering kukatakan pada Saudara, bahwa getaran air putih kita akan dapat menyiram keseluruh tubuh, terutama dapat mengalahkan getaran2 yang kurang sempurna yang ada dikepala. Maka kepala kita dapat tenang, tentram dan dingin. Yang mana nantinya getaran tenang, tentram tadi, akan turut pula tersaring dalam penanaman biji tsb. Yang akan menghasilkan anak yang cerdas, sehat dan waspada seperti yang kita harap-harapkan. Nah inilah Saudara sekalian yang terpenting harus saudara renungkan dan perhatikan betul2.

Saudara2 hadirin Yth.
Sampailah kita sekarang kepada uraian soal SUJUD. Dalam menjalankan sujud perlu sekali kami sempurnakan, agar dapat lebih manfaat pada diri kita.
Ucapan2 dalam sujud: Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa.
Benarkah yang sujud itu Hyang Maha Suci kita sungguh2 ?.
Karena itu sekarang pahamkan benar, kemudian nanti sebarkan dan beberkan pada warga2. Apabila belum mengerti sekali-kali janganlah malu bertanya. Sebab ini adalah kebutuhan Saudara sendiri.
Adapun cara penelitian sujud yang sempurna adalah sbb:
Yang pertama:
Duduk bersila bagi seorang pria/ bertimpuh bagi seorang wanita

menghadap ke Timur seperti biasa.

Mata diarahkan kebawah, memandang tajam +- 1 m.

Duduknya tegak lurus, bersikap tenang,

jangan memikirkan apa2/macam2

(Andaikan kepala menggeleng kekiri atau kekanan, juga apabila kepala mendangak atau kepala dingkluk kebawah, hal ini tidak boleh sama sekali karena nanti akan menghalang-halangi (mengganggu) jalannya getaran air suci tersebut yang akan berjalan langsung keotak besar)

FASE KE 1.
Mulai merasakan getaran yang kasar naik,

maka kepala terasa berat,

kemudian getaran menurun, menutup mata.

Setelah mata tertutup akibat turunnya getaran tersebut, maka

getaran menurun lagi sampai kepada mulut.

Kemudian mulut/ bibir terasa tebal dan

dari lidah keluar air liur (air ludahnya)

kemudian air ludah tersebut kita telan,

terus didalam batin mengucap:
Allah Hyang Maha Agung.
Allah Hyang Maha Rochim.
Allah Hyang Maha Adil
.

FASE KE II.
Selanjutnya merasakan getaran yang ke 2 yang halus ialah
getaran air putih yang berasal dari tulang cetik (Bhs.Jawa silit kodok atau tulang ekor)

Getaran air putih tersebut naik sedetik demi sedetik melalui ruas2 tulang punggung (ula2 , Bahasa Jawa)

Adapun jalannya sangat halus sekali karena
tiap2 ruas merambat mengambil getaran2 dari sumsum tulang punggung tadi.

Jalannya halus sekali.
Begitulah selanjutnya
sedetik demi sedetik melalui ruas2 tulang punggung tersebut.

Dengandemikian maka
badan akan membungkuk dengan sendirinya mengikuti jalannya getaran yang halus tersebut.

Sikap lurusnya badan harus tetap dipelihara,
artinya membungkuknya jangan melengkung, sehingga tidak mengganggu jalannya air putih tadi.

Bapak2 dan para hadirin Yth.
Disini yang perlu diperhatikan ialah
gangguan2 yang tidak kita sangka2 datangnya,
ialah pikiran2 yang datang se-konyong2,
hingga mengganggu dalam merasakan nikmatnya jalannya getaran air putih tersebut.

Bagaimana cara kita menolak gangguan2 tersebut ?
Ialah sewaktu datang gangguan tersebut, maka
mata kita buka dengan sengaja.
Lalu dalam batin mengucap:
Allah Hyang Maha Agung.
Allah Hyang Maha Rochim.
Allah Hyang Maha Adil.


Setelah gangguan itu hilang, maka
mata kita tutup kembali.
Akan tetapi harus diingat:
1. Sikap tubuh sewaktu terganggu harus tetap diperhatikan (jangan dibungkukkan)
2. Maka
harus diingat, sampai dimana jalannya getaran air putih tadi, sehingga setelah menyebut Asma Allah 3 tadi, mata telah ditutup kembali, dengan demikian jalannya yang tertahan tadi dapat diikuti kelanjutannya.

Hal ini perlu sekali diperhatikan agar tidak terjadi loncatan2 jalannya getaran air putih.
Jalannya seperti menaiki tangga rantai untuk masuk/ naik ke Jonggring Selaka (otak besar) melalui Sela Penangkep (otak kecil) tersebut.

Demikianlah selalu dikerjakan, apabila datang gangguan selama sujud, sehingga akhirnya dahi menyentuh tanah/ tikar.

Apabila dahi telah menyentuh tanah, ini berarti bahwa jalannya getaran air putih telah sampai ke otak besar.

Maka lalu mengunjal ambegan (menghela napas panjang).

Bila lidah serasa penuh air liur bergetar, kemudian mengucapkan :
"Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuasa" 3 X (dalam batin)
Inilah saatnya kontak dengan sinar Allah.

Hadirin sekalian Yth.
Mempelajari dan melakukan hal tersebut diatas bukanlah hal yang mudah. Apabila hal2 tersebut belum bisa dilaksanakan, maka ia belum dapat melakukan apa yang disebut ening.
Hingga dewasa ini banyak para Tuntunan maupun warga yang merasa gembira sekali apabila didalam sujud mendapat gambaran2, meskipun ia tidak dapat meramalkan maksud gambaran tersebut. Dan anehnya gambaran2 yang ia peroleh diramalkan dengan pikir. Bagaimana dapat benar apabila ditafsirkan secara akal pikir ?
Sebab rasa diwejang oleh cahya.
Maka caranya meramali harus pula dengan rasa.

Saudara2 sekalian Yth.
Apabila penelitian sujud yang sempurna tersebut telah dapat Saudara jalankan/praktekkan dengan betul, maka berarti Saudara telah melakukan penggalian yang sejati, penggalian pribadi yang asli.
Dan apabila Saudara telah berhasil, maka Saudara akan menjadi manusia yang utama, terhindar dari jajahan getaran2 yang kurang sempurna/ tidak sempurna seperti telah kami uraikan dimuka. Atau Saudara akan menjadi manusia yang berbudi luhur.
Semuanya itu akan dapat terlaksana apabila usaha itu didampingi dengan kemauan dan kemampuan saudara, dan juga didampingi dengan kaya darma (jadi memerlukan 3 unsur).

Saudara2 sekalian Yth.
Sujud bungkukan ke I telah selesai.
Kemudian duduk kembali.
Apabila kita telah duduk,
semua getaran dikepala yang telah kontak dengan sinar cahaya akan turun, merata keseluruh tubuh.
Maka lalu dirasakan turunnya itu.
Saluran mana yang dilalui, silahkan Saudara teliti sendiri didada Saudara.
Disini sengaja tidak kami tunjukkan dengan harapan:
1.Sdr. dapat meneliti/memecahkan sendiri.
2.Menjaga Saudara2 tidak akan menjadi manusia ikut-ikutan (=rubuh-rubuh gedang).
Turunnya getaran tersebut melalui dada (serasa dingin),
kemudian keperut.
Saat inilah untuk melatih kewaskitaan/kewaspadaan.
Sebab kita dapat melatih kewaskitaan dengan meneliti getaran2 yang mengalir ke gelombang2 yang ada/saluran2 yang mana yang dilaluinya getaran2 tersebut.
Sebetulnya kita sendiri telah mempunyai kewaskitaan tersebut misalnya dada kita terasa trataban, maka dalam batin kita akan ada apa ini.
Akan tetapi kita belum tahu duduk soalnya.
Maka kita sekarang dapat mengerti sebab2-nya. Sebab Saudara sekalian telah saja beri cara jalannya Saudara akan menjadi manusia yang penuh waspada.
Itulah penggalian pribadi yang aseli.
Janganlah Saudara2 akan menjadi manusia ikut-ikutan atau rubuh-rubuh gedang.
Saudara harus berani memecahkan dan memikirkan persoalan-persoalan.
Sukakah Saudara2 akan menjadi manusia ikut2-an ?Rubuh2 gedang ? Manusia yang anut grubjug ?
Jawab hadirin a.l. Tidak !!!
Jadi bilamana Saudara ke sanggar,
janganlah hanya untuk mengobrol saja,
tapi gunakan kesempatan itu untuk
menggali, meneliti melatih diri sendiri.
Sanggupkah saudara2 melaksanakan ???
Jawaban hadirin. Sanggup !!
Nah ,jawaban saudara2 itu keluar dari
bibir malang atau bibir mujur ?
Artinya, sungguhkah Saudara2 dapat menepati janji?
Jawaban Saudara2 sekalian yang dulu2 itu kebanyakan keluar dari
bibir mujur yang artinya dapat mulur/mungkret.
Janji saudara tidak kau tepati sendiri.

Saudara2 sekalian laksanakanlah penggalian dan penelitian yang sungguh2. Saya ingin Saudara2 para tuntunan menjadi manusia yang waspada,
bebas dari iri hati,panasten, dahwen, dsb.nya, sebab perasaan2 yang jelek itulah akan menghambat kewaspadaan, kewaskitaan Saudara2.
Selanjutnya.
Apabila bungkukan2 telah selesai dan Saudara telah duduk kembali, maka
silahkan Saudara menyelesaikan bungkukan ke 2, ke 3 dengan cara seperti pertama.

Saudara2 sekalian Yth.
Sujud Saudara sekalian adalah sujud asal mula manusia.
Maka mulai sekarang kurangilah makan dan tidur. Tapi kata2 ini,
jangan diterima wantah begitu saja Saudara (jangan diterima letterlijk).
Disini dapat saya umpamakan. Bila orang habis mencangkul sawah, ia akan mengalami rasa capai. Akan tetapi capai dalam mencangkul tanah akan memberi kesehatan badan kita, karena kita mendapatkan sinar matahari dan sari2 getaran tanah.
Sebaliknya bila Bapak2 bersetubuh, walaupun hanya sebentar, badan kita akan capai dan lemas, lembek.
Karena apa ? Biji manusia dikuras dari badan. Sedang itu sebetulnya membikin kesehatan.
Maka hematlah dengan penebaran biji manusia.
Caranya telah saja utarakan dimuka
keraplah sujud dalam waktu senggang.
Apabila Saudara2 betul2 dapat menyalankan seperti apa yang saja katakan tadi, niscayalah pelacuran akan lenyap dari masyarakat Indonesia.

Bapak2 Tuntunan Yth.
Kita harus bersatu. Janganlah dikalangan kita membeda-bedakan suku2 misalnya, disini ada suku Sunda, Bali, Lampong, Jawa dsb.
Saja tak suka akan suku2, sebab nanti akan pincang Saudara.
Sebab lantas tidak punya tangan. Karena itu demi untuk persatuan bangsa Indonesia ialah menghendaki Satu Bangsa. Satu Negara. Satu Bahasa.
Maka saya usulkan agar Buku2 Wewarah Agama Sapta Darma dicetak kedalam Bahasa Indonesia. Sebab kami tak setuju dipertahankannya suku2, demi untuk persatuan bangsa Indonesia.
Percajalah, apabila Saudara2 juga penuh berusaha, maka bangsa kita akan jadi bangsa no. 1 didunia, akan jadi contoh dan akan jadi pelopor bangsa didunia dalam keluhuran. Percajalah A,S,D dan Negara kita Indonesia akan bersinar keseluruh dunia, bersinar laksana Surya.

Bapak2/Ibu2 sekalian Yth.
Sapta Darma adalah Agama.
Mengapa ?
Saudara sekalian tahu
artian Agama dalam arti difinisi rochaniah menurut Sapta Darma berasal dari arti:
A = Asal mula manusia.
Ga = Gama ( kama, berarti air suci/putih.)
Ma = Maja: sinar Cahaya Hyang Maha Kuasa.


Jadi Sapta darma adalah Agama karena Sujudnya menggali/ memelihara asal mula manusia.

Karena sudah saya katakan
asal mula manusia ialah dari air putih dan Sinar cahaya Hyang Maha Kuasa.
Inilah definisi Agama menurut pendapat Sapta Darma.
Sekian, terimakasih. Jam 1.53.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Fatwa PANUNTUN AGUNG pada malam ke 2, tgl. 28/29-12-’62 yang dimulai pada jam 22.30.

Bapak2, Ibu, Para hadlirin Yth.
Sebelumnya saya minta ma’af, bila terjadi kekhilafan dalam uraian nanti. Pertama2 akan kami uraikan sekedar cuplikan riwayat penerimaan dan perkembangan A.S.D.
Sejak penerimaan ilham yang pertama, kami selalu diikuti oleh 2 orang sahabat (pengikut), yang selama itu tidak pernah berpisah. Dengan demikian mereka itu selalu menjadi saksi2 utama dalam penerimaan ilham2.
Apabila ada diantara mereka itu yang mengundurkan diri, atau misalnya terjadi dua2nya mengundurkan diri, entah bagaimana, mesti ada orang lain yang menggantikannya mengikuti kami. Demikian seterusnya sejak semula (th 1952) s/d tahun 1956, saat mana para sahabat mengembangkan A.S.D. keluar kota Pare keseluruh Indonesia.
Mereka itu ada yang mengikuti terus-menerus selama 3 bulan, ada yang 4 a 5 bulan bahkan ada yang 7 a 8 bulan.
Dalam usaha mengembangkan A.S.D. banyak sekali rintangan2, penderitaan2, pengorbanan2 perasaan yang bersama kami hadapi/derita.
Ejekan2, cemoohan2 dilontarkan pada kami. Namun semua itu kami terima dengan penuh ketenangan & kesabaran serta kegembiraan.
Hanya berkat ketabahan itulah akhirnya Hyang Maha Kuasa mengijinkan A.S.D. berkembang dengan subur serta cepat.
Karena itu kami pesankan disini pada para Warga maupun Tuntunan terutama, meski banyak rintangan yang Sayudara2 hadapi terimalah dan hadapilah itu dengan tenang dan teguh.
Terimalah segala rintangan dengan gembira serta kesadaran.Sebab semua rintangan itu semuanya adalah pupuk serta menguji ketabahan,kesadaran dan keyakinan kita.
Tanpa rintangan2 takkan tercapai untuk menyadi Satria Utama.
Untuk memiliki budi luhur, jalannya tidaklah lurus & rata.
Disekolah, tiap kenaikan kelas/tingkat, mesti ada ujian atau test. Demikian pula kita.
Tiap kita menuju ketingkat kesempurnaan/ keluhuran, pastilah kita harus mengatasi sesuatu rintangan, mengekang nafsu dsb. Dan apabila kita lulus dalam menghadapinya, majulah kita setapak kedepan/keatas.
Saudara para Tuntunan Yth.
Tuntunan adalah pengabdi. Jadi
harus menjunjung dan menghormati warganya.
Dengan demikian Warganya akan berbuat lebih mencintai dan menghormati Tuntunannya. Bukankah pengabdian Tuntunan itu sebenarnya adalah
pendidikan martabat pribadi sendiri ?
Jadi ejekan2, cemoohan2 itu sebenarnya adalah penilai, seberapa jauh ketenangan dan kesabaran Saudara.
Ingatlah akan ucapan2:
Wani ngalah luhur wekasane.
Mengalah Saudara2, bukan berarti kalah.
Tetapi mengalah untuk menang, untuk mencapai budi luhur.

Saudara2 Yth.
Khodrati manusia seharusnya mencintai sesama. Sebab sifat itu adalah sesuai dengan saat terjadinya.
Bukankah sewaktu kita ini tercetak, situasi/suasana Bapak dan Ibu dalam keadaan2:
-- saling mencintai secara ikhlas dan jujur.
-- gembira.
-- semangat ???
Mengapa kita tidak mau mencintai sesama ?
Dan sekarang menjadi pemalas serta pemurung ?
Ingatlah Saudara2 pada purwa duksina. (purwa = wiwitan. Sina = putih)
Dengan itu, ini bisa terlaksana apabila jalan2 yang tersebut diatas ditempuh.
Isteri yang sejati harus sehidup semati.
Ini bukan berarti istri (wanita) biasa, tetapi suatu kias, perlambang kesatuan yang erat antara jasmani & rokhani, atau antara Adam dengan Kawa.
Jadi tubuh yang sempurna disertai budi pakarti yang luhur. Memberikan darma hidupnya secara tulus dan ikhlas, tanpa pamrih.

Saudara2 Tuntunan Yth.
Usahakanlah tugas Tuntunan dapat dilaksanakan.
Misalkan saja sebulan sekali,
Tuntunan Propinsi menemui/ saling bertemu dengan para Tuntunan Karesidenan -- Karesidenan dengan Kabupaten --
Kabupaten dengan Kecamatan/ Tuntunan Sanggar.
Tiap Tuntunan seyogyanya mengadakan penyelidikan dan penelitian terhadap pengolahan/ pelaksanaan ajaran A.S.D. terhadap para warganya.
Baik mengenai kesempurnaan2 sujudnya maupun darma hidupnya.
Semua kerja supaja didiskusikan dan hasilnya dicocokkan. Dengan demikian terdapat keseragaman.

Saudara2 Yth.
Saudara2 telah sampai pada penelitian, penyempurnaan pasujudan. Ini berarti sampai pada taraf penyempurnaan getaran. Jadi Saudara telah berusaha menajami tajamnya Sapta Rengga, pribadi sendiri.
Saudara akan sampai pada taraf2 lanciping (tajamnya) pangandika (tutur kata) dan kewaspadaan.
Karena itu jangan gegabah dengan tutur kata.
Karena orang yang telah menggali meneliti dan mengolah getaran-getarannya, tutur kata/ sabdanya gawat keliwat-liwat, tajamnya melebihi pisau cukur.
Ini kami ingatkan, agar tidak nemahi/ mengenai diri sendiri.
Jagalah, hingga selalu bertutur kata yang baik.

Saudara2 membangun Candi Sapta Rengga (mata 2, telinga 2, lubang hidung 2, mulut 1 (= 7) , biar tajam / waspada/ waskita.
Karena itu banyak rintangannya. Tercapai tidaknya terserah pada usaha Saudara2 sendiri. Bila dapat, Saudara2 akan menjadi Satria Utama, manusia pelopor yang dapat menghayu-hayu bahagianya dunia.

Bapak2, Ibu2 Yth.
Dalam kehidupan rumah tangga, kami pesankan senantiasa dalam kedamaian. Jangan mudah bertengkar. Jadilah pasangan yang rukun.Seperti mimi & mintuna.
Dalam mencarikan pasangan hidup putera-puterinya atau dirinya (bagi sekarang yang belum berpasangan)
ajarlah mengadakan penelitian yang sempurna, supaya kelak tidak pecah lagi.
Didalam persetubuhan, rasa manunggal/ bersatu, yaitu manunggaling rasa cahya dan Air putih yang berasal dari makanan. Ini menimbulkan air rasa, air cahaya, air rasa, air mani.
Jadi: dalam kesukaan (persetubuhan), air putih keluar, dalam kesukaran (kesusahan), air mata keluar.
Karena itu hindarilah percekcokan dalam rumah tangga, supaya tiada timbul kesukaran.
Perjodohan yang sejati seperti mimi & mintuna berarti :
-- menimbulkan ketenteraman.
-- penghematan/ biji manusia, dan pemeliharaan.

Ini mengakibatkan lahirnya keturunan yang baik.

Ibu2 Yth.
Ibu2 banyak yang masih kabotan tapih/ pinjung.
Jadi Ibu2-pun perlu menggali dengan jalan menyempurnakan sujudnya. sehingga nanti dapat menguasai getarannya. Ini banyak berguna bagi Ibu2.
Suatu contoh saja:
Apabila Bapakmu pergi, maka eningkan.
Apabila dadanya terasa berdebar keras (di “RA”), maka cegahlah dengan bujuk rayu (esem dsb.-nya), supaya Bapak tak jadi pergi. Sebab apabila jadi pergi, maka akan terjadi hal2 yang tak diinginkan. Misalnya saja Bapak akan berlaku serong, ada halangan dsb.
Apabila tidur bersama, Ibu harus dikiri Bapak.
Mengapa ?
Ini usaha mencocokkan rasa dengan pangrasa Adam dan Kawa.
Dalam pewayangan: kiwa berarti lorek = jelek.
Tapi bukan berarti bila Ibu dikiri Bapak lalu berarti Ibu itu jelek, ooo tidak sama sekali.
Ini dimaksudkan supaya terjadi keseimbangan jalannya Ibu dengan Bapak.

Bapak2, Ibu2. Semua Hadlirin Yth.
Dengarkan, camkan dan rasakan baik2 apa yang akan kami katakan ini.
Sabdaning Sri Gutama.
"A.S.D. akan jadi pedoman, pegangan (panutaning) para umat sedunia".
Apabila bohong/ mlesed Sabdaning dan panjangkaning Sri Gutama, berarti bukan sabdaning Panuntun Agung Agama Sapta Darma.
Wahyu alam, pepadanging donya jatuh di Negara kita.
Saudara2 semua kinudang-kudang (diharapkan sekali) menjadi manusia Satria Utama yang akan mempunyai watak berbudi bawa leksana, sanggup menghayu-hayu bahagianya dunia.
A.S.D. dan Warga A.S.D. akan menjadi pepadang, dan selalu bersinar laksana Surya.--
Bohong Sabdaning Sri Gutama, berarti bukan Sabdaning P.A. agama Sapta Darma.

Saudara2 Yth.
Saudara2 akan jadi pelopor orang2 yang terpilih.
Untuk itu harus memiliki toya yang wening.
Memiliki toya ingkang wening dapat digambarkan Air suci/ bersih.
Caranya memiliki ialah Sdr.2 harus berani dan mau membersihkan dunia pribadinya. (Ngresiki jagading pribadi).
Memiliki toja ingkang wening dapat digambarkan sbb:
Ibarat mengambil air sumur (sumber = mata air) ditaruh dalam gelas untuk diminum. Apabila air itu diendapkan (dileremake), maka bagian atasnya (bagian yang bersih), bila diminum akan lebih nikmat/ enak, dari pada apabila air itu langsung diminum. Air yang bersih tersebut apabila diberikan pada orang lain, lebih2 yang kehausan ( haus pegangan hidup), akan terasa lebih seger sumjah, enak sekali.
Jadi air yang jernih lebih bermanfaat.
Ini berarti Saudara2 harus selalu perlu mengendapkan/ menyaring getaran2-nya. agar hasil yang baik, apabila didarmakan, akan terasa nikmat dikenyam orang lain.
Sekian: 23.29.
- - - - - - - - - - - - - - - -- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Fatwa fase ke II dimulai jam :02.15.
Saudara2 Yth.
Kini kami berpesan pada para Ibu.
Ibu2 Yth. yang pertama , disini akan kami betulkan sikap sujud yang susila.
Adapun cara2 penelitian sujud yang sempurna, telah dengan panjang lebar diuraikan, dan yang diulang oleh pembicara yang lain.
Sujud yang susila bagi para Ibu, ialah
bila sedang membungkuk, sekali-kali janganlah mengangkat pantatnya.
Didalam sujud, sesudah selesai, banyak Ibu2 yang berkata, bahwa ia mengetahui apa2. Itu tidak benar.
Itu palsu.
Jadi mulai sekarang jangan sering membuat tahu apa2, dengan harapan biar disebut orang waskita dsb.nya.
Kalian kami ajar/ tuntun pada tabiat yang jujur jadi jangan suka membohong.
Jangan membohongi pribadinya sendiri ya Ibu ?
Dampingilah Bapak2 ini. Biar rumah tangga yang bahagia, damai dan sentausa. Hindarilah percekcokan, agar keruntuhan rumah tangga dapat terjaga/ terhindar. Ingatlah bahwa kebahagiaan rumah tangga adalah sendi daripada kebahagiaan masyarakat.

Para Hadlirin Yth.
Semua pesan kami, kami harap dilaksanakan. Semua itu hanya demi kebahagiaan Bapak2, Ibu2 sendiri. Marilah be-ramai2 dan ber-sama2 memberikan darma/ amal perbuatan kepada semua umat.
Sembuhkanlah orang2 yang menderita sakit !
Apabila mengobati,
caranya seperti yang telah Saudara kenal, atau seperti yang diuraikan dalam buku.
Lihatlah pasien sdr. dengan penuh,
bila lidah Saudara telah bergetar, Sabdalah "Waras".
Ini adalah salah satu usaha dalam mencari keutamaan.
Sebab apabila terjadi kesembuhan dalam usaha kita tersebut, maka kita senang. Suatu kesenangan yang tak bisa dibeli. Karena ia tak mau diberi upah, maka si pasien merasa berhutang budi. Karena itu si pasien tersebut akan senantiasa ingat kebaikan yang diterima, sehingga ia akan mendoakan kebaikan. Doa ini akan bisa menambah kekuatan pada yang menyembuhkan tadi.
Apabila sewaktu akan menyabda itu timbul rasa keraguan, dan ada dorongan harapan pamrih (balas jasa), maka sabdanya tidak akan mandi (ampuh)(tidak mempunyai kekuatan penyembuhan).

Saudara2 Yth.
masuk A.S.D berarti mencari jalan untuk mencapai keutamaan/ keluhuran budi.
Jadi bukan tempat untuk mencari harta benda. kekayaan materiil.
Jadi yang bisa diperoleh adalah kebahagiaan,
karena ia dalam Sapta Darma akan mendapatkan ketenteraman, ketenangan dan kesabaran.
Dan itu benar2 diperoleh apabila dalam tingkah hidupnya melalui jalan Tuhan.
Perjuangan hidup, apalagi keluhuran, akan berlangsung terus sampai ia mati.
Dan kita akan mengenyam apa arti hidup bahagia, abadi, apabila kita duduk dalam kebijaksanaan, keluhuran, dan kewibawaan.
Akhirnya sebagai penutup: Selamat jalan. selamat berjuang, selamat berhasil (sukses) dalam mengejar kebahagiaan, kesempurnaan hidup didunia dan akherat, demi menghayu-hayu bahagianya dunia.
Sekian
Jam 03.25

Lelampahan Bopo Sri Gutomo ( kaca 32 )

free counters













































Lelampahan Bopo Sri Gutomo (kaca 31)

simbol pribadifree counters


WEWARAH AGAMA SAPTA DARMA JILID 1
Kahimpun dening
SRI PAWENANG
Pamedar Sabda Panuntun Agama "SAPTA DARMA"
Kawedalaken dening : Yayasan "SRATI DARMA"
-------------------------------------------------------------------------------------
Dipun awisi sanget sok sintena ingkang anyitak utawi anyade buku punika.

SESANTI
Ing ngendi bae marang sapa bae warga Sapta Darma kudu sumunar pinda baskara.

Foto Panuntun SRI GUTAMA



Foto Panuntun wanita SRI PAWENANG


ISINIPUN BUKU

Bab I. Bebuka.
" II. Gegayuhan Agama "Sapta Darma".
" III. Katerangan wewarah 7, wajibing warga "Sapta Darma".
" IV. Katerangan simbul "Sapta Darma".
" V. Katerangan bab sujud.
" VI. Pigunanipun sujud lan katerangan asaling toya suci (sari).
" VII. Ngusadani tiyang sakit saha cara2nipun.
" VIII. Ening utawi "Semedi"
" IX. Tukar hawa, Ulah rasa lan Racut.
" X. Tali rasa.
" XI. Pepenget.

I. BEBUKA

Buku wewarah Agama Sapta Darma" cap-capan ingkang sampun2 senadyan isinipun sampun mentes, ewa semanten kangge ngleksanani pamundutipun sakatahing para warga tuwin para maos ingkang ambetahaken keterangan2 ingkang ceta, amrih sampun ngantos wor suh anggenipun anindakkaken wewarah, pramila Panggubah pikantuk palilah saking panyenenganipun Panuntun Agung, andapuk buku punika ingkang pokok isinipun mboten ngewahi ingkang lami, namung unda usuking bab, kaewah, kawewahan tuwin dipun kirangi, ngengeti tataran kekiyataning pangudi.

Dapukan punika kaangkah kalajengaken dados pinten2 jilid, ingkang isinipun nyekapi sadaya wewarah saha ilham-ilham ingkang katampi dening Bapa Panuntun SRI GUTAMA.

Mila buku wedalan enggal punika ngewrat dasar2 saha keterangan2 ingkang langkung ceta, minangka sesuluh tumrap para ingkang ambetahaken, supados sampun ngantos tida-tida malih panggladining pribadinipun, anggayuh dateng kaluhuraning bebuden.

Basanipun kadamel basa Jawi, kalarasaken kaliyan ungel-ungelaning pesujudan, nanging mboten wonten awonipun ing tembe kawedalaken mawi basa sanes-sanesipun ingkang salaras kaliyan kawontenan.

Bilih isi saha katerangan2 ingkang kaewrat ing buku punika meksa taksih kirang ceta, kersaa ingkang kawogan mundut keterangan dumateng warga/ tuntunan ingkang celak. Jalaran buku punika namung kagem nyekapi langkung rumiyin kabetahaning warga "Sapta Darma".
Pramila bilih wonten satunggiling peminat ingkang kepingin sujud, kita aturi nyuwun pitedah dateng para warga/ tuntunan "Sapta Darma". sageda katuntuni sujudipun sampun ngantos kacobi-cobi piyambak, amrih saged leres sampun ngantos klentu anggenipun nindakkaken sujud kalawau.
Ewa semanten sakatahing kritik pitedah sampurnaning isi buku punika, sanget ka-ajeng2 saha katampi kanti ikhlas lan sucining manah.
Wasana mugi2 buku punika saged murakabi dumateng para maos umumipun saha para warga "Sapta Darma" khususipun.
Gusti ingkang Maha Kuwaos tansah angayomana lan angabulna sadaya gegayuhaning Satriya Utama kangge mangayu-ayuning Bawana.
Ngayogjakarta, 1 Asjura 1891.
Panggubah.

WEWARAH pitu wajibing warga "Sapta Darma".
"Saben warga kudu netepi wajib ":
1. Setia tuhu marang ananing Pancasila Allah.
2. Kanti jujur lan sucining ati kudu setia anindakake angger-angger ing Negarane.
3. Melu cawe2 acancut tali wanda njaga adeging Nusa lan Bangsane.
4. Tetulung marang sapa bae yen perlu, kanti ora nduweni pamrih apa bae , kajaba mung rasa welas lan asih.
5. Wani urip kanti kapitayan saka kekuwatane dewe.
6. Tanduke marang warga bebrayan kudu susila kanti alusing budi-pekerti, tansah agawe pepadang lan mareming liyan.
7. Jakin yen kahanan donya iku ora langgeng, tansah owah gingsir (anyakra manggilingan)


II. Gegayuhan Agama "Sapta Darma"
Gegayuhaning Agama "Sapta Darma" bade mangayu-hayu bagya bawana. Liripun bade ambudidaya amrih sagedipun gesanging manungsa punika bagya ing alam donya saha akhiratipun.
Pramila "Sapta Darma" bade anuntun umat manungsa, dumateng kasampurnaning gesang rokhani lan jasmani. Kangge angleksanani gegayuhan punika "Sapta Darma" caos pepadang dumateng sadaya umat, sarana anglantaraken ilham2 "Sapta Darma" ingkang wiwitan katampi dening Panuntun Sri Gutama, bangsa Indonesia asal saking Pare (Kediri) Jawa Timur. Sejarah tumuruning Ilham2 ingkang sarana paseksen para sahabatipun ingkang gantos-gumantos, bade kaewrat ing buku wewarah jilid salajengipun.
Menggah inti sarining piwulang Agama "Sapta Darma" ingkang kabeberaken dumateng sadaya umat ingkang karsa, kaprinci kados ing ngandap punika

1. Nanem kandeling kapitadosan, sarana nedahaken bukti2 saha paseksen bilih Allah punika wonten lan sawiji, nguwaosi alam lan sak-isinipun ingkang dumados. Kagungan sipat2 ingkang utami, gangsal perkawis inggih punika:
a. Maha Agung. b. Maha Rokhim c. Maha Adil d. Maha Wasesa e. Maha Langgeng
Pramila manungsa wajib angluhuraken asma Allah, saha setiya tuhu anindakkaken dawuh2ipun.

2. Anggladi sampurnaning manembah (sujud) inggih punika manembahing rokhani dumateng ingkang Maha Kuwaos anggayuh bebuden luhur, sarana cara2 ingkang gampil lan prasaja, saged katindakkaken dening sadaya umat.

3.Andidik manungsa atindak suci lan jujur, anggayuh napsu budi lan pakarti tumuju dumateng kaluhuran lan kautaman kangge sanguning gesang bebrayan ing alam donya saha ing akherat. Mila "Sapta Darma" ndidik warga2-nipun dadosa Satriya Utama tansah trap susila berbudi bawa leksana, ambek welas lan asih, remen tetulung dumateng sesamining umat ingkang nandang pepeteng, ugi andidik sageda gesang kanti kekiyatanipun piyambak, sepi ing pamrih, rame ing gawe, wonten ing pundi papan, dateng sintena kemawon tansah sumunar pinda baskara.
Tumrap warga "Sapta Darma" isining "Wewarah Pitu" wajib katindakkaken lan kalenggahan ingkang saestu saha kadarmakkaken dateng sesamining umat.

4. Paring piwulang dumateng warga2-nipun sageda mranata ing gesangipun. Ngengeti gesangipun manungsa wonten ing donya winengku dening gesanging rokhani tuwin gesanging jasmani. Pramila kedah saged ambagi wekdal, upaminipun :wanci siyang makarti kangge nyekapi kabetahanipun jasmani, dene ing wanci dalu tuwin wekdal ingkang senggang, kangge nyekapi kabetahaning rokhani (sujud manembah dumateng ingkang Maha Kuwaos, anggula wentah raos lan sapanunggilanipun). Bilih kalih2-ipun katindakkaken sarana tertib, temtu bade saged anggayuh luhuring rokhani lan jasmani.

5. Wewarah panggladi sampurnaning sujud ingkang kaceta ing angka 2 bilih katindakkaken kanti ikhlas lan emating raos ingkang alus sanget, miturut "Sapta Darma" saged andayani ,manungsa kadunungan kawaskitan ma-rupi2 upaminipun: waskitaning pandulu, pangganda, pamiyarsa, rasa, lan pangandika.
Ingkang sampun saged kabukten dening sakatahing warga "Sapta Darma" upaminipun : Sabda usada kangge tetulung tiyang sakit. Waskita ing pandulu, pangganda, pamiyarsa kangge nampeni sasmita ingkang kaparingaken saking Ingkang Maha Kuwasa.
Anggayuh sabda luhur lan kawaskitan ing "Sapta Darma" punika katindakkaken wonten ing sanggar2 sesarengan para warga, sarana dipun tuntuni dening tuntunan sanggar, umpaminipun ing wanci dalu, mboten ketang namung dumugi jam 11 utawi 12. Dene wonten ing griya saged sakjam-jamipun kangge latihan piyambak wonten ing papan pasujudan ingkang katemtokaken, asal tentrem, resik lan suci.
Patileman umum mboten prayogi kangge panggenan sujud.
Dados tumrap "Sapta Darma" sanggar punika panggenan ingkang suci, pramila kedah piningit, mboten kenging kangge nindakkaken padamelan ingkang sarwa nilar katentreman lan kasucian. Upaminipun: gegujengan, tukar paben, nindakkaken padamelan maksiyat lan sapanunggilanipun.

Pepenget
Tumrap para warga, utawi sinten kemawon ingkang nindakkaken, anggladi sujud, ulah raos utawi racut, dipun awisi sanget nilar wewarah ingkang kaewrat ing buku suci punika, upaminipun: sikep ingkang mboten susila, ing wekdal ngadep Hyang Maha Kuwasa.
Pramila bilih nindakkaken latihan sesarengan wonten ing sanggar, prayogi wonten satunggaling warga ingkang kayibah dening tuntunan ngulat-ulataken tumindaking warga2 sanesipun.

6. Ngicalaken kapitadosan dumateng sadaya takhayul. Dumuginipun titi wanci punika saperangan ageng bangsa ing Indonesia taksih pitados dumateng takhayul.
Ingkang makaten punika asring sanget ngrendetaken kamajenganing bangsa ing dalem gesang bebrayan ing alam donya mriki. Piwulang Agama "Sapta Darma" namung ngluhuraken dumateng Allah ingkang sawiji, dene manungsa kagolong umat ingkang luhur piyambak ing alam donya lan pinaringan purbowasesa saking Panjenenganipun.
Pramila penganut Agama "Sapta Darma" ingkang sampun anindakkaken sujud anglampahi kuwajiban ingkang kaewrat ing Wewarah Pitu, boten perlu malih nyirik dateng dinten, wulan, mangsa lan sapanunggilanipun kangge nindakkaken pedamelan.
Dipun awisi : ngluhuraken watu, kayu, memundi sawarnaning dedamelan manungsa limrah, memundi saha neda pitulungan lelembat, pasang sawarnining sesaji ingkang amurih mboten kaganggu ingkang ambahu rekso griya, pakawisan utawi dusun lan warni2 takhayul sanes2-ipun. Semboyanipun warga2 "Sapta Darma" : "Satria Utama kinasih lan kinayoman dening Hyang Maha Kuwaos, tinebihaken saking pandameling angkara murka".
Mila para warga "Sapta Darma" bilih saestu2 anggayuh kanti anindakkaken wewarah ingkang kabeberaken dening Panuntun Agung Agama "Sapta Darma", mesti saget anggayuh katentremaning pribadi, bagjaning umat manungsa ing donya saha ing alam akhirat.

III Wewarah pitu wajibing warga "Sapta Darma" saha keteranganipun
Saben warga kedah netepi wajib kados ing ngandap punika :
1. Setia tuhu marang ananing Pancasila Allah.
Ingkang dipun wastani Pancasila Allah inggih punika sipat kaluhuran Allah ingkang gangsal prakawis:
a. Maha Agung. b. Maha Rokhim c. Maha Adil d. Maha Wasesa e. Maha Langgeng
Tegesipun: Tembung Maha ateges Luwih mboten wonten ingkang nyameni malih.
a. Allah Hyang Maha Agung, tegesipun mboten wonten ingkang nyameni berbudinipun, mila manungsa inggih kedah anggadahi watak berbudi dumateng sesamining umat.
b. Allah Hyang Maha Rokhim, tegesipun mboten wonten ingkang nyameni ing welas lan asihipun, mila manungsa kedah anggadahi watak welas lan asih dumateng sesamining umat.
c. Allah Hyang Maha Adil, tegesipun mboten wonten ingkang nyameni ing adilipun, mila manungsa kedah tumindak adil dumateng sinten kemawon, ingkang ateges mboten kenging mbedak-mbedakaken.
d. Allah Hyang Maha Wasesa, tegesipun Allah masesa saisining alam kalebet sadaya para umat. Dene kita manungsa dipun paringi purbawasesa, kangge nyekapi kabetahaning rokhani lan jasmani.
e. Allah Hyang Maha Langgeng, tegesipun Allah sipat langgeng datan wonten ingkang nyameni, dene manungsa ingkang langgeng rokhaninipun, awit rokhani asal saking sinar cahya Allah, jasmani asal saking sari-sarining bumi. Pramila manungsa kedah ngudi supados anggadahi bebuden ingkang luhur.
Luhuring bebuden mahanani luhuring asma. Bilih ing tembe rokhani nilar jasmani, manungsa pejah, luhuring asma tetep, ananging jasmani ingkang asalipun saking sari2ning bumi wangsul dateng asalipun malih inggih punika ing bumi(siti). Dene rokhani wangsul dateng alam langgeng, utawi sentralipun.

2. Kanti jujur lan sucining ati kudu setiya nindakake angger2 ing negarane.
Keterangan
Manungsa gesang ing alam donya umumipun dados warganing salah satunggaling negari. Sadaya angger2 utawi pranatan satunggil-satunggiling negari temtu anggadahi gegayuhan: adamel sae tumrap negari punika.
Pramila kita warganing Agama "Sapta Darma" ugi warganing negari kedah sarana jujur saha suci nindakkaken pranataning negarinipun amrih negarinipun saged sae kados ingkang dipun idam-idamaken. Upaminipun: Kita warga Negari Indonesia kedah taat kaliyan Undang2 Negara Indonesia.

3. Melu cawe-cawe acancut taliwondo anjaga adeging Nusa lan Bangsane.
Keterangan:
Warga "Sapta Darma", dumateng sadaya kuwajiban ingkang tumuju dumateng tata tentrem, saha kemajengan, miwah karaharjaning nusa lan bangsanipun, mboten kenging selak utawi anggadahi tekad sumarah punapa dene masa bodo. Kedah tumut ambiyantu tenaga miwah banda saha pikiran samestinipun miturut kekiyatanipun piyambak-piyambak.

4. Tetulung marang sapa bae yen perlu,kanti ora nduweni pamrih apa bae, kajaba mung rasa welas lan asih.
Keterangan:

Srananipun tiyang tetulung punika warni2 inggih punika: tenaga, banda lan pikiran. Tumraping para warga "Sapta Darma" taksih kawewahan: Sabda Usada, inggih punika kaginakkaken nulungi tiyang sakit. Tetulung ingkang kasebut ing nginggil punika mboten kenging mawa pamrih punapa kemawon, namung dasar welas lan asih. Langkung2 tetulung dumateng tiyang sakit sarana migunakkaken sabda, karana sabda makaten punika kagunganipun Hyang Maha Kuwasa, dene para warga namung kangge lantaran nindakkaken kerokhiman Allah. Pramila mbok bilih wonten warga ingkang nglanggar, nyumanggakaken bilih wonten bebenduning Allah.

5. Wani urip kanti kapitayan saka kekuwatane dewe.
Keterangan:

Manungsa gesang punika sampun kaparingan akal-budi saha pirantos pepak kangge nyekapi kabetahan gesangipun. Warga "Sapta Darma" kedah anggladi gesang sarana migunakkaken kekiyatanipun piyambak, sampun ngajengaken pitulunganing sanes. Mboten kenging melik darbeking sanes ngumbar hardaning kamurkan, ingkang adamel kapitunan dateng sintena kemawon. Kedah pitados bilih makarti sarana jujur migunakaken akal budi ingkang utami, bade saged nyekapi gesangipun.

6. Tanduke marang warga bebrayan kudu susila, kanti alusing budi pakarti, tansah agawe pepadang lan mareming liyan.
Keterangan:

Ingkang dipun wastani warga bebrayan inggih punika pasrawungan kaliyan sintena kemawon ing masjarakat. Warga "Sapta Darma" kedah saged sesrawungan kaliyan sinten kemawon, jaler estri, sepuh enem, ageng alit, luhur lan asor.
Anggladi watak andap asor, alus ing solah-tingkah, ing pangandika tansah adamel lega saha mareming sanes. Nglenggahi trep susila; tumrap sipating wanita dateng priya, priya dateng wanita, sarta kedah saged anjagi kaluhuraning pribadi.

7. Yakin yen kahanan donya iku ora langgeng tansah owah gingsir (anyakra manggilingan).
Keterangan:

Owah gingsiring kawontenan donya kados dene lampahing jinantra. Warga "Sapta Darma" kedah ngengeti bilih kawontenan ing donya punika mboten ajeg.

Kesimpulan:
Dados ingkang kawastanan Warga "Sapta Darma" kedah anindakaken wewarah 7.
Sapta = 7, Darma = kuwajiban suci (bakti). Mila wewarah 7 punika mboten kenging kapisah-pisahaken antawisipun satunggal lan satunggalipun., sebab punika mujudaken satunggaling bulatan.
-------------------------------------------------------------------------------------



IV SIMBUL "SAPTA DARMA"
Keterangan:

Gambar punika nyanepakaken sifat-sifat tuwin pribadining manungsa.
1, Wujudan persegi ingkang kaentra belah ketupat nyanepakaken: asal dumadining manungsa:
a. nginggil sinar cahya Allah;
b. ngandap sarining bumi;
c. kiwa lan tengen pelantar bapa lan biyung.

2. Pinggir ijem sepuh sanepaning wadag (wadah)

3. Dasar ijem maya (enem).
Sinar cahya Allah, hawa utawi geteran. Mila ing salebeting wadaging manungsa dipun liputi sinar cahya Allah.

4. Wajikan tiga ingkang sami agengipun arupi petak, anedahaken ugi asal dumadining manungsa saking tritunggal, inggih punika:
1. toya sarining bapa
2. toya sarining ibu.
3. sinar cahya Allah (kiwa, tengen,nginggil).
Petak sanepaning suci, sami agengipun, njawi nglebet sami resikipun.
Pikajengipun: Warga "Sapta Darma" sami mangertosana, bilih asal dumadining manungsa punika saking barang resik utawi suci. Pramila samiya ngudi wangsul dateng suci kados asalipun sarana ngresiki jasmani saha rokhaninipun.

5. Wajikan 3 anggadahi pojokan 3 X 3 = 9.
Nyanepakaken manungsa anggadahi bolongan 9, inggih punika: tutuk 1, mripat 2,irung 2,talingan 2, ngandap 2.

6. Bunderan nyanepakaken: kawontenan ingkang tansah owah gingsir (cokro manggilingan). Gesanging manungsa bade wangsul dateng asalipun malih yen tumindak bebuden luhur. Rokhaninipun manungsa bade wangsul dumateng ingkang Maha Kuwasa ing Alam Langgeng. Jasmani bade wangsul dateng asalipun ugi, inggih punika asal sari-sarining bumi wangsul dateng bumi malih.

a. Warni cemeng:
hawa cemeng medal saking tutuk, menawi kita ngendika awon.
Pangertosan, asaling hawa cemeng inggih sebab dayaning hawa ingkang sampun beku. Sagedipun hawa beku kala wau ical gantos resik, supados sregep sujudipun saha mboten ngendika awon, dateng sinten kemawon.

b. Warni abrit ateges:
hawa abrit medal saking talingan yen kita pinuju nesu.
Pangertosan warni abrit: inggih punika sebab dayaning pangrangsang suwanten, numusi getering indriya ingkang dumunung wonten talingan, menawi mirengaken suwanten ingkang awon utawi mboten cocok kalian raos ingkang kakersakaken dening rokh sucining manungsa. Mila sipatipun layeng muntab, wonten karsa bade nelukaken dateng sok sintena ingkang kasebat utawi kapireng kala wau. Mila manungsa kedah saged nuntun sipat awon wau kanti mboten mirengaken sedaya suwanten ingkang awon, upamia mireng, mboten usah dipun raosaken.

c. Warni jene teges: pepenginan, hawa jene medal saking paningal, yen kita kepingin samukawis punapa kemawon.
Pangertosan warni jene: ateges sipat kekajengan sebab daya pangrangsanging paningal ingkang kaleres kagem mirsani sadaya ingkang sae utawi sanes2-ipun pepinginan. Pramila manungsa kedah saged nuntun pepinginan kala wau dateng tujuan ingkang leres.

d. Warni petak ateges: tumindak suci. Asalipun sebagian ageng saking hasil karyaning perangsang indria grana. Indria grana namung saged utawi purun nampi sinar2-ing Allah kemawon utawi sadaya ingkang suci utawi resik. Liripun menawi wonten hawa utawi ambet ingkang awon grana mboten purun nampi. Amargi grana sampun waskita. Pramila bilih manungsa bade kepengin waskita sageda indria 3 kala wau, tumindak kados dene tumindakipun indria grana.

Liripun: mripat kanggea amriksani barang ingkang sae kemawon, talingan kangge mirengaken basa (suwanten ingkang sae kemawon saha tutuk sampun ngantos ngendika ingkang awon, kedah ingkang sae (petak,resik). dados ing ngriku saged jumbuhaken asaling manungsa ingkang suci (petak)

e. Ageng aliting bunderan punika anedahaken ageng aliting sifat ingkang sekawan kala wau ingkang dipun gadahi dening manungsa. Pramila manungsa kedah saged mbedak2aken dumateng sadaya karsa lan tumindak, pundi ingkang kagolong wonten warni cemeng; abrit, jene utawi petak.

7. Gambar bunderan ing tengah2 warni petak katutup gambar Semar,
ugi nyanepakaken bolonganing embun-embunanipun manungsa.
Dados bolongan kita punika 9 kados kasebat ngajeng (no.5).
10 tinutup utawi pudak sinumpet.
Gambar bunderan (embun2an) petak nyanepakaken Nur Cahya utawi Nur petak, inggih hawa suci (Hyang Maha Suci) ingkang saged sesambungan kaliyan Hyang Maha Kuwasa. Mila bilih kita sujud ngangkaha Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuwasa. Liripun: manggelengaken raos ing embun2an, ngantos maujud nur petak ingkang saged sowan kaliyan Hyang Maha Kuwasa.

8. gambar Semar ugi nyanepakaken bebuden luhur.
Pikajenganipun: Warga "Sapta Darma" ngudia anggadahi bebuden kados Semar.
Semar nuding mawi panuduh nyanepakaken:
datan wonten sesembahan kajawi Allah sawiji.
Semar nggegem, nyanepakaken ngregem rasa kaluhuran;
ngangge pusaka nyanepakaken sabda ingkang sarwa petak.
Wironing kampuh gangsal, nyanepakaken nglenggahi Panca Sila Allah.
Mila warga "Sapta Darma" samiya anggladi pribadi nulad tindak tandukipun Ki Lurah Semar kados kasebat ing nginggil. Kaparibasakaken Semar punika Dewa mangejawantah, senadyan ala tanpa rupa nanging luhur budine.
9.Seratan Jawi: napsu, budi,pakarti, inggih isi pitedah, bilih ing pribadining manungsa anggadahi napsu, budi, pakarti sae lan awon (luhur lan asor).
Agami "Sapta Darma" nuntun manungsa anggayuh budi pakarti ingkang luhur.
Seratan Sapta Darma
tegesipun: Sapta = pitu. Darma = kuwajiban suci.
Pramila warga "Sapta Darma" wajib nindakkaken sarta ngamalaken wewarah 7 ingkang kakersakaken Hyang Maha Kuwasa.
Dados miturut keterangan ingkang kasebat ing nginggil, simbul "Sapta Darma" punika anggambaraken isinipun manungsa, ingkang perlu kamangertosana saha kagulawentah dening para pangudi kaluhuraning bebuden miturut wewarah Agama "Sapta Darma"

V. Sujud (sembaHyang) "Sapta Darma" lan keteranganipun.
Warga "Sapta Darma" kawajibaken sujud ing dalem 24 jam (sedinten sedalu) se-kedik2-ipun sapisan. Langkung saking sapisan langkung utami.
Bilih wonten ing sanggar saged sesarengan kaliyan Tuntunan, kenging sajam-jamipun. Namung langkung prayogi katemtokaken.
Trap susilaning lenggah:
1.**
Lenggah madep mangetan.
Tumrap kakung sila, tumrap putri timpuh.
Ewa semanten kenging mendet sasekecanipun, asal mboten nilar trap susila.
Asta kasedakepaken, kiwa wonten ing nglebet tengen wonten ing jawi.
Mriksanana gambar No. 1 lan No. 2.


********** Gambar No. 1 lan No. 2 **** Gambar No. 3 lan no 4

2.***
Sak lajengipun ngleremaken badan,
paningal mriksanana mengajeng leres kinten2 1 meter saking dumununging lenggah,
sirah lan ula-ula sagaris jejeg.
3.***
Sak sampunipun lenggah saha sariranipun lerem. ngucapa ing batos"
"Allah Hyang Maha Agung"
"Allah Hyang Maha Rokhim"
"Allah Hyang Maha Adil".

4.***
Saksampunipun lerem,
ing mriku wonten hawa (getaran) ingkang wonten nglebet saking ngandap manginggil.
Minangka tanda,
pucuking ilat kraos pating trecep.
5.***
Lajeng raos manginggil malih ngantos dumugi sirah,
mila nutup tlapukan mripat sarana geteran.
Sirah kraos awrat;
tanda yen raos (geteran) sampun kempal sadaya wonten sirah mila mahanani goyanging badan.
6.***
Ing ngriku lajeng wiwit ngraosaken sari2-ning toya ingkang wonten ing brutu (silit kodok).
Lampahipun alus sanget minggah medal ing ros-rosan ing ula-ula.
7.***
Pandungkluking badan terus kaetutna kanti emat sanget
ngantos batuk dumawah ing siti (ngandap).
8.***
Wekdal sirah ndingkluk dumugi ing siti,
lajeng ngucap ing dalem batos:
]"Hyang Maha Suci sujud Hyang Maha Kuwasa"., (kaping 3).
Mriksanana gambar No. 3 lan No. 4
9.***
Sak sampunipun ndingkluk ingkang kaping sapisan
sirah kajunjung alon2 minggah
ngantos lenggah jejeg malih kados ing wiwitan ngajeng.
10.***
Makaten sak lajengipun ngantos sirah ndingkluk kaping kalihipun tumunten ngucap ing batos:
"Kesalahane Hyang Maha Suci nyuwun ngapura Hyang Maha kuwasa" (kaping 3)
11.***
Sirah kaangkat malih kados ngajeng.
Ndingkluk kaping tiganipun lajeng ngucap ing batos :
"Hyang Maha Suci mertobat Hyang Maha Kuwasa" ( kaping 3).
12.***
Lajeng lenggah malih, sarira taksih lerem sawatawis menit dangunipun.

Keterangan Pasujudan
1. Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil. pikajengipun: angluhuraken asma Allah, saha enget dateng sipat kaluhuranipun ingkang Maha Kuwaos.
Punika kaucapaken ing batos mboten namung kangge miwiti sujud kemawon, nanging ugi samangsa warga "Sapta darma" bade miwiti ening (semedi). dene tegesipun sampun kaewrat ing nginggil bab ngajeng (Bab III).

2. Hyang Maha Suci Sujud Hyang Maha Kuwasa.
Hyang Maha Suci: sesebataning rokh suci kita piyambak, ingkang asal saking sinar cahyaning Allah ingkang ngliputi badan kita piyambak.
Maha = linuwih; Kuwasa = nguwasani. Tegesipun Maha = meliputi/linuwih.
Dados kesucian ingkang nyumrambahi wonten pribadi kita punika ingkang sujud dateng Hyang Maha Kuwasa(menembah),
Hyang Maha Kuwasa
= sesebutaning Allah ingkang nguwaosi alam sak isinipun, kalebet manungsa (alus lan wadagipun).
Sujud
= sumarah ing purba lam wasesanipun.
Dene tegesipun: Rokh Suci kita masrahake purba lan wasesanipun dumateng Hyang Maha Kuwasa.

3. Kesalahane Hyang Maha Suci Nyuwun Ngapura Hyang Maha Kuwasa.
Tegesipun: kalepataning Rokh Suci nyuwun pangapunten dumateng Hyang Maha Kuwasa. Saksampunipun rokh suci sujud, lajeng naliti kesalahan-kesalahan (dosa2) saben dintenipun.
Lajeng pasrah nyuwun ngapunten dateng Hyang Maha Kuwasa, sedaya dosa2 (kesalahan2) kalawau.

4. Hyang Maha Suci Mertobat Hyang Maha Kuwasa.
Sasampunipun nyuwun pangapura lajeng mertobat, ingkang ateges mboten bade nindakaken dosa (kalepatan) malih.

Pepenget
Warga "Sapta Darma" samiya anggladi sujud ingkang sak estu, miturut wewarah kasebat ing nginggil,
sampun ngantos nindakaken sujud wadag, utawi sujudipun karep, awit tanpa guna kenging kaparibasakaken : sujud rubuh-rubuh gedang.
Dene sujud 3 dingklukan kala wau kawastanan "Sujud dasar" utawi "Sujud wajib"

VI. Pigunaning sujud, saha keterangan asaling toya sari (suci).
Nindakake sujud ingkang sami emat miturut pitedah ing bab gangsal, ageng sanget pigunanipun. Sedinten sadalu sakedik-kedikipun sapisan, kerep langkung sae,
nanging ingkang dipun pentingaken ematipun.
Mboten kenging kasesa utawi ambujeng enggalipun rampung.
Pramila manawi nindakaken sujud miliha wanci ingkang ayem lan tentrem, ing sengganging padamelan.
Sujud miturut wewarah punika bilih katliti sayektos,
nuntun lampahing toya sari ingkang sampun kasaring mawantu-wantu,
saha nuntun lampahing sinar cahya ingkang dumunung wonten ing salebeting badan,
kawradinaken nglangkungi pori2, (bolongan ingkang lembat sanget),
tuwin sel2 (peranganing daging urat2) ing sak indenging badaning manungsa.
Perlu dipun mangertosi punapa ta getaran saha toya sari punika lan asalipun, dunungipun ing pundi ?
Getaran inggih sinar cahya Allah
inggih hawa ingkang kasanepakaken ijem maya2 ing ngajeng ingkang dumunung ing lebet saranduning pribadining manungsa.
Dene toya sari inggih toya petak, utawi toya suci,
asalipun saking sari2 bumi, dados tetuwuhan,
dados dedaharan kadahar dening manungsa.
Sari2-ning dedaharan kala wau mujudaken toya petak (sari) ingkang dumunung ing cetik (silit kodok).
Manunggiling geteran sinar cahya kaliyan geteran toya sari
ingkang mlampah alus sanget ing saranduning badan sakujur, mahanani daya kekiyatan ingkang ageng sanget.
Dene kekiyatan kala wau saged kawastanan atoom ingkang berjiwa dumunung wonten ing pribadi manungsa.
Kekiyatan wau ageng sanget paedahipun, amargi saged ambrantas kuman2 penyakit,
ngleremaken napsu angkara, nglantipaken akal lan pikiran,
saget nampeni kawaskitan mawarni-warni,(waskita ing pandulu, pamiyarsa, pangganda, waskita ing pangandika saha waskita ing rasa).
Manggelengipun ing embun-embunan maujudaken Nur,
minggahipun manginggil ngadep Hyang Maha Kuwasa
saged nampeni sasmita warni2 kadosta: sanepan gegambaran2, seratan2,(sastra jendra hayuningrat = tulis tanpa papan).
Sarananipun mboten sanes namung pangolahing rokhani ing wekdal sujud
saha panggulawentahing budi pakarti dumateng keluhuran.
Panggulawentahing pribadi punika tumrap para ingkang sampun saged, prasasat nyitak "atoom" ingkang berjiwa ing pribadinipun.

VII. Ngusadani tiyang sakit saha caranipun.
Tumrap warga "Sapta Darma", tansah ngengeti wewarah 7 (pitu) sarta dipun wajibaken suka pitulungan dumateng sadaya umat ingkang nandang sakit, nanging mboten kenging pisan2 neda pituwas utawi anggadahi pamrih punapa kemawon, kajawi dedasar welas lan asih, salugu nindakaken kerokhiman Allah.
Bebendu Allah bade dumawah dumateng sadaya ingkang nerak wewaler, nanging kosok wangsulipun Allah tansah paring kekiyatan lan kanugrahan dumateng sintena ingkang setiya tuhu nindakaken dawuh-dawuhipun.
Rokhmat Allah sangkan paran dumadinipun.

Caranipun ngusadani:
ening kaliyan melek katujokaken dumateng peranganing badan ingkang sakit.
Saksampunipun raos kempal ing tutuk, ilat kraos trecep-trecep,
ing batos nyebat asma Allah: Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rokhim, Allah Hyang Maha Adil,
nunten kasabda: "WARAS".
Tiyang ingkang sakit kapuriha ngraosaken.
Bilih sakitipun sampun tetahunan, utawi sakit ing perangan nglebet, upaminipun:paru2; asma, ayan, lepra, nier (ginyel), tekanan darah (bloedruk) lan sapanunggilipun,
tiyang ingkang sakit katuntuna sujud emating raos.
Sak sampunipun sujud kapurih ngucap ing batos
:"Njaluk gerake Nur Rasa".
Ening raos katujokaken ing asta.
Bilih asta sampun geter (gerak) , ing batos kapurih ngucap
:"Njaluk ditambani nganti waras".
Asta wau kaetutna gerakipun dateng pundi purugipun, kangge ngusadani sakitipun.
Mboten kenging pisan-pisan kacampuran pangraos (mawa karep) utawi kasengaja kapurugaken ing perangan ingkang sakit.
Asta tiyang sakit kala wau gerak, anggrayang perangan ing pundi kemawon kaetutaken ngantos ingkang sakit kraos enteng.
Makaten punika katindakaken saben dinten ngantos saras.
Dene menawi sakitipun sampun saras, bab sujudipun kala wau dipun terusaken inggih sae mboten inggih sakersa, jer untung rugi wonten pribadinipun piyambak.
Dados warga "Sapta Darma" mboten kenging meksa dateng sintena kemawon.
3. Dene yen warga piyambak ingkang sakit tumindaka kados ingkang kasebat ing angka 2.
Sujud kanti emating raos lajeng nyuwun gerakipun nur rasa anjampeni sesakitipun piyambak.
Ngengeti wewarah No.5
"Kudu wani urip kanti kapitayan saka kekuatane dewe".
Mila bilih warga piyambak ingkang sakit kedah ngusadani piyambak,
mboten kenging nyuwun pitulungan warga sanes.
4. Manawi wonten tiyang sakit sampun sanget sajak wonten raos bilih mboten saget saras, warga "Sapta Darma" kedah migunakaken kawaspadan saha kawaskitanipun.
Kaeningna sarana merem kados pundi sanepanipun tumrap tiyang sakit punika.
Bilih wonten gegambaran:
peksi kekablak utawi miber, wit garing, tiyang lenggah mungkur, utawi angganda mayit,
tiyang wau mila sampun ginaris dening Hyang Maha Kuwasa.
Bilih kasabda:"Waras", sakitipun inggih saras, nanging umur sampun dumugi ing janjinipun kapundut dening Hyang Maha Kuwasa mboten saged dipun selaki malih.
Dene bilih wonten sanepa:
wit waringin, sekar mawar megar, tentu sakitipun bade waluya.

5. Tiyang ingkang sakit lumpuh utawi badanipun pejah sepalih,
kauyega tali rasanipun nunten kapurih ngebah-ebahaken tangan saha sukunipun
lajeng kasabda "waras".

6. Bilih tiyang sakit ewah, urat saraf, utawi edan,
kauyeka ing utek perangan wingking (utek alit) mawi driji panunggul ingkang tengen,
ing panggenan Satria Utama (antawisipun alis kalih) kakeplaka alon-alon mawi epek-epek tengen kaping 3.
lajeng kasabda "waras"

VIII. ENING (Semedi)
Ingkang kawastanan ening utawi semedi, inggih punika: nentremaken pangrasa (pikiran) ingkang maneka warna; pengangen-angen, lan sapanunggilanipun. Dados ngosongaken pikiran:
raos namung tumuju dumateng Satriya Utama.
dados
sanadyan ta badan ebah, ananging manawi pikiran sampun kendel ateges sampun ening.
Kosok wangsulipun sanadyan katingalipun
badan anteng nanging manggalih maneka warni, dereng saged kawastanan ening.
Ening (semedi) ing "Sapta Darma" mboten kenging kangge dolanan, awit nyebat/ngluhuraken asma Allah. (Allah Hyang Maha Agung, Rokhim, Adil).
Ening namung kenging katindakaken kangge nggayuh ingkang luhur.
Inggih punika:
1. Nampi dawuh2 saking Hyang Maha Kuwasa arupi sanepa, sasmita, seratan2 (sastra jendra hayuningrat).
2. Mriksani arwah leluhur ingkang sampun tilar donya,
kados pundi kawontenanipun, punapa sampun katampi ing pangayunaning Hyang Maha Kuwasa (sampun wonten ing kaswargan).
Ing ngriku saged kadulu sarana ening.
Bilih taksih wonten ing pasiksan lajeng kedah sujud, nyuwunaken pangapunten, mertobat ing dosanipun (kesalahanipun arwah wau), supados kaentas saking pasiksan, saged katampi ing papan ingkang sae.
3. Mriksani papan wingit (angker): ingkang tansah angganggu damel dumateng manungsa.
Papan ingkang kados makaten kenging katawaraken.
Sarana Ening saged mriksani kados pundi wewujudanipun rokh penasaran/ syetan2 ingkang wonten ing ngriku, kasuwunaken pangapunten dumateng Hyang Maha Kuwasa supados katampi ing papanipun, sampun angganggu dumateng umat manungsa.
4. Kangge murwakani sadaya tumindak lan pangandika,
minangka panglatih kasabaran saha pangatos-atos, supados sadaya tindak utawi pangandika sarwa leres.
Ening saged katindakaken sarana melek utawi merem.
6. Kangge mirsani saderek ingkang tebih bilih pinuju wonten keperluan ingkang penting.

IX. Tukar hawa, Ulah rasa lan Racut.
A. Tukar hawa.

Tukar hawa punika ginanipun
kangge ngicali kesel
kadosta: mentas nyambut damel awrat, kekesahan tebih lan sapanunggilipun.
Caranipun:
Tileman mlumah mujur ngetan, asta kiwa lan tengen kaselehaken wonten ing kiwa tengenipun badan,epek-epek madep manginggil.
Pikiran mendel,
sasampunipun 10 a 15 menit dipun rampungi.
Lajeng siram.
Ing ngriku hawa geteran ingkang sampun kaginakaken medal nglangkungi pori2, embun2an, gantos hawa enggal malih.
Raos kados dene sampun ngaso jam-jaman dangunipun, seger bugar kekiyatanipun wangsul kados wau-waunipun.

No. 5. Tukar hawa lan ulah rasa,
B. Ulah Rasa
Ulah rasa punika
nyelidiki, (neliti) lampahing rasa lan getaran ingkang wonten saranduning badan.
Caranipun:
Sasampunipun sujud
lajeng mapan tileman kados dene caranipun tukar hawa ing A.
Sandangan ingkang kenceng dipun kendokkaken sampun ngantos angganggu lampahing raos.
Pikiran kagesangaken
kangge ngraosaken lampahing getaran wiwit saking dlamakan suku minggah ing saranduning badan, kateliti raos ingkang mlampah nglangkungi perang-peranganing badan ingkang sak alus-alusipun.
Ugi karaosno lampahing erah lan denyuting jantung,
mlebet medaling hawa nglangkungi pori2.

Bilih katindakkaken kanti sabar lan teliti saged kapriksanan salebeting ening kados pundi lampahing sari-sari, getaran-getaran ingkang sumrambah, saha denyuting jantung.

C. Racut.
Racut ateges misahaken raos lan pangraos.
Wekdal punika, saged kapigunakkaken pisowanipun Hyang Maha Suci dateng Hyang Maha Kuwasa.
Mila kita mumpung taksih gesang sageda nyatakkaken papan padunungan kita ing tembe bilih wangsul ing jaman kelanggengan inggih ingkang dipun wastani alam kaswargan lss.
Mila leres tetembungan: Manungsa kudu bisa mati sajroning urip supaya weruh ing rupa lan rasane.
Tegesipun : ingkang pejah pikiranipun, dene ingkang gesang raosipun.
Bilih pinuju racut kita nyumerepi rokh kita piyambak minggah dateng alam akherat (kaswargan) ngadep ing ngarsanipun Hyang Maha Kuwasa.
Dene rokh kita nyumerepi jasmani kita wonten ing ngandap.

Caranipun:
Kita sujud wajib, sasampunipun, kawewahan satunggal dingklukan malih kanti ngucap ing batos: "Hyang Maha Suci Sowan Hyang Maha Kuwasa"
Lajeng mapan tileman kados caranipun ing A lan B.
“Ananging asta katumpangaken ing CO” ,
sedakep epek-epek tengen kumurep katumpangaken epek2 kiwa.
Pikiran kasuwungaken,
satria utama kangge mirsani bidalipun Nur Petak (Hyang Maha Suci) medal saking embun2an.
Ing sarehning racut punika satunggiling pakarti ingkang remit sanget, mila ambetahaken kasabaran, katelitian lan katentreman.

Panggladi punika sae katindakkaken saben wekdal ingkang senggang wonten ing griya, awit mahanani saged nampeni kawaskitan warni2.
Racut kala wau boten nguwatosaken,
jalaran namung 1 Hyang Maha Suci ingkang Sowan Hyang Maha Kuwasa,
dene saderek 11 taksih nengga wonten angganipun (badanipun).
Mila inggih taksih ambegan, taksih mireng suwanten nanging boten dipun raosaken.

X TALI RASA
Saben manungsa gesang, sami gadah sentral2 (bundelan) saluran raos ingkang wonten ing badanipun piyambak2 ingkang kawastanan bundelan tali rasa.

Gambar No. 7 lan 8.
Cacahipun wonten 20 dipun tengeri abjad aksara Jawi.
Nami2 bundelan tali rasa 20 lan dunungipun kados kaceta ing ngandap punika.
1. HA - janggut.
2. NA - tenggok.
3. CA - dada malang.
4. RA - Kecer (ati).
5. KA - Puser.
6. DA - batukan ngandap.
7. TA - silit kodok.
8. SA - ula-ula penering puser.
9. WA - ngandap entong-entong.
10. LA - punuk.
11. PA - cangklakan.
12. DA - sikut.
13. JA - ugel-ugel.
14. YA - tengahing epek-epek.
15. NYA - susu kiwa tengen.
16. MA - banggelaning lakang.
17. GA - cangklakan dengkul.
18. BA - nginggil kencet.
19. TA - tengahing dlamakan suku.
20. NGA – Pucuking irung (tengahing alis)

Ginanipun mangertosi bundelan tali rasa :
Bilih warga “Sapta Darma” mitulungi tiyang sakit ingkang sampun pejah urat sjaraf-ipun kadosta: pejah sepalih (verlamming),
bundelan tali-tali rasa wau kaujega
lajeng (kaeningna) nunten kasabda “Waras”.

Pepenget:
Bilih ingkang sakit estri sageda tiyang estri ingkang nindakkaken mitulungi.
Kosok wangsulipun bilih kakung ugi sami-sami kakung.

Dene kepeksanipun mboten wonten, saged katindakkaken nanging
mboten kenging kaujeg,
kasabda kemawon “waras” lajeng kapurih gedruk-gedruk piyambak.

XI. PEPENGET.
Wekdal tumuruning ilham :
1. 27 Desember 1952.
Ilham sapisan: Sujud, tinampi dening Bapa Panuntun ing Kediri jam 01.00 (satunggal dalu)
2. 12 Juli 1954.
A. Simbul “Sapta Darma” jam 11.00 (sawelas enjing).
B. Wewarah pitu wajibing warga “Sapta Darma”.
3. 27 Desember 1954.
Nami Sri Gutama (Tgl. 12 Mulut dinten Saptu Wage), jam 24.00 (kalih welas dalu).

1 Sura Dinten Riyadi Agama “Sapta Darma”





Nama : . . . . . . . . . . . . . . . .
Alamat : . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . .
Tanggal dimiliki : . . . . . . . . . . . . . .


(tanda tangan)